Bursa Asia Menguat, Pasar Mulai “Bernapas” dari Risiko Selat Hormuz
Saham-saham Asia dibuka menguat setelah pasar Wall Street berbalik naik, didorong harapan perang Iran bergerak menuju de-eskalasi. Namun, aktivitas perdagangan diperkirakan lebih sepi karena sejumlah bursa Asia tutup libur.
Di awal sesi, indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,6% dan Kospi Korea Selatan melonjak 2,9%. Penguatan ini mengikuti penutupan S&P 500 yang naik tipis 0,1% pada Kamis, setelah sempat tertekan hingga 1,5% di tengah kekhawatiran konflik Timur Tengah.
Sentimen membaik ketika harga minyak melemah dari level puncaknya usai laporan bahwa Iran menyusun protokol bersama Oman untuk memantau lalu lintas di Selat Hormuz, yang praktis tertutup sejak perang dimulai. Penurunan tekanan minyak dinilai menjadi kunci karena pergerakan energi saat ini sangat memengaruhi selera risiko, meski pemulihan pasar saham tetap rentan jika situasi kembali memanas.
Di sisi lain, ketidakpastian masih tinggi. Presiden Donald Trump disebut kembali melontarkan ancaman baru terhadap infrastruktur Iran untuk menekan Teheran dalam negosiasi, sementara pasar menilai arah konflik masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan headline. Sejumlah analis menilai volatilitas berpotensi tetap elevated dalam jangka pendek karena dampak gangguan pasokan energi global belum jelas durasinya.
Perdagangan Jumat juga berlangsung dalam kondisi likuiditas yang lebih tipis: bursa yang tutup termasuk Australia, Selandia Baru, Hong Kong, Singapura, Filipina, dan Indonesia, sementara pasar AS juga libur Good Friday. Meski demikian, pemerintah AS tetap dijadwalkan merilis data ekonomi, termasuk laporan nonfarm payrolls Maret, yang berpotensi memengaruhi arah pasar berikutnya.(asd)
Sumber: Newsmaker.id