Emas Jatuh 4%, Ada Apa di Balik Tekanan Ini?
Harga emas turun tajam pada Rabu (10/6), tertekan oleh penguatan dolar AS, pelemahan saham berisiko, dan eskalasi baru antara Amerika Serikat dan Iran. Emas spot melemah 4,4% ke US$4.071,40/oz, sementara kontrak berjangka emas turun 4,5% ke US$4.095,00/oz.
Tekanan muncul setelah harapan terhadap kesepakatan damai di Timur Tengah kembali melemah. Militer AS melancarkan serangan “self-defense” terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan Washington akan merespons insiden jatuhnya helikopter AS yang sebelumnya disebut sedang berpatroli di sekitar Selat Hormuz. Iran sendiri belum mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Komentar Trump kemudian memperkuat ketidakpastian. Ia mengatakan Iran terlalu lama menegosiasikan kesepakatan dan “harus membayar harga”. Pernyataan itu membuat pasar menilai peluang gencatan yang stabil makin sulit, terutama setelah Trump kembali menegaskan bahwa AS siap menyerang Iran lebih keras jika proses kesepakatan tidak segera bergerak.
Bagi emas, konflik geopolitik kali ini tidak otomatis menjadi dorongan safe haven. Pasar justru lebih fokus pada dampak energi dan inflasi. Penutupan Selat Hormuz masih menjadi sumber kekhawatiran karena jalur ini penting bagi pengiriman minyak global. Jika harga minyak terus naik, inflasi dapat bertahan tinggi dan membuat The Fed lebih sulit melonggarkan kebijakan.
Data CPI AS Mei memberi sinyal campuran. Inflasi utama naik 0,5% MoM dan 4,2% YoY, sesuai perkiraan, tetapi menjadi laju tahunan tertinggi sejak April 2023. Core CPI naik 0,2% MoM dan 2,9% YoY, sedikit lebih lunak dari estimasi bulanan. Namun lebih dari separuh kenaikan inflasi utama berasal dari energi, dengan harga energi naik 23,5% YoY dan bensin melonjak 40,5% YoY.
Secara fundamental, tekanan emas datang dari kombinasi dolar lebih kuat, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian suku bunga Fed. Meski data core CPI yang lebih jinak sempat mengurangi sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga, lonjakan energi akibat konflik tetap menjaga risiko inflasi tetap hidup. Kondisi suku bunga tinggi biasanya membebani emas karena logam ini tidak memberikan bunga atau dividen.
Untuk saat ini, emas masih berada dalam fase defensif. Pasar akan memantau perkembangan konflik AS–Iran, arus kapal melalui Selat Hormuz, arah harga minyak, pergerakan dolar AS, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed setelah data inflasi terbaru.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id