Pasar Asia Risk-Off, Minyak Melonjak Lagi di Tengah Perang Iran
Bursa Asia-Pasifik melemah pada Kamis, ketika investor masih bergulat dengan volatilitas harga minyak dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Tekanan terjadi meski AS dan sekutunya mengumumkan rilis darurat cadangan minyak dalam skala yang belum pernah terjadi, yang bertujuan meredam guncangan energi akibat perang Iran.
Badan Energi Internasional (IEA) disebut akan melepas 400 juta barel minyak sebagai respons atas gangguan pasokan terkait konflik Iran—langkah terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. Namun, IEA tidak merinci kapan tepatnya stok itu akan benar-benar masuk ke pasar, sehingga pelaku pasar menilai dampak penahanannya belum langsung terasa.
Dari sisi AS, Menteri Energi Chris Wright mengatakan pemerintah akan melepas 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk membantu menurunkan biaya energi. Pengumuman ini datang setelah Presiden Donald Trump lebih dulu menyatakan akan memanfaatkan SPR untuk menahan lonjakan harga energi.
Meski ada langkah-langkah tersebut, minyak tetap menguat. WTI tercatat naik lebih dari 6% dan kembali mendekati area $93 per barel pada malam hari waktu AS, menegaskan bahwa pasar masih membayar premi risiko selama konflik belum mereda dan arus energi global tetap dibayangi ketidakpastian.
Di pasar saham, tekanan risk-off terlihat jelas. Australia (S&P/ASX 200) turun sekitar 1,56%. Jepang (Nikkei 225) melemah sekitar 1,6% dan Topix turun 1,34%. Korea Selatan (Kospi) juga terkoreksi sekitar 0,75%. Sementara itu, futures Hang Seng berada di sekitar 25.756, di bawah penutupan terakhir indeks.
Inti Newsmaker: rilis cadangan darurat bisa menjadi “rem” jangka pendek, tetapi pasar Asia belum merasa aman karena volatilitas minyak tetap tinggi dan timeline pelepasan stok belum jelas. Selama perang Iran terus memicu ketidakpastian pasokan dan inflasi energi, bursa cenderung tetap rapuh dan bergerak sangat bergantung pada headline..(asd)
Sumber: Newsmasker.id