Hang Seng Jatuh, Hormuz Bikin Pasar Asia Waspada
Indeks Hang Seng turun 300 poin atau 1,2% ke 24.105 pada Kamis (11/06), memperpanjang pelemahan untuk sesi ketujuh beruntun. Level ini menjadi yang terendah sejak Juli 2025, menandakan tekanan jual di pasar Hong Kong masih berlanjut di tengah sentimen global yang rapuh.
Tekanan utama datang dari eskalasi baru di Timur Tengah. Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke beberapa target di Iran untuk hari kedua berturut-turut, sementara Presiden Donald Trump menuduh Teheran menunda negosiasi damai sementara. Kondisi ini membuat investor mengurangi eksposur ke aset berisiko, termasuk saham Asia.
Kekhawatiran pasar bertambah setelah Iran mengumumkan penghentian lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Jalur ini penting bagi pengiriman energi global, sehingga gangguan yang lebih panjang dapat mendorong harga minyak naik dan menjaga risiko inflasi tetap tinggi. Bagi pasar saham, kombinasi minyak mahal dan ketidakpastian geopolitik biasanya menekan sektor siklikal dan saham berbasis konsumsi.
Mayoritas sektor di Hong Kong bergerak melemah, dipimpin saham ritel, konsumer, dan beberapa teknologi. Lenovo turun 0,6%, HKEX melemah 0,5%, sementara Xiaomi terkoreksi 0,9%. Pelemahan ini menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap saham yang sensitif terhadap permintaan dan sentimen risiko.
Namun, penurunan indeks tidak lebih dalam karena sejumlah saham berkapitalisasi besar masih mencatat penguatan. Tencent naik 1,4%, AIA menguat 2,4%, dan SMIC bertambah 0,6%. Kenaikan saham-saham besar ini membantu menahan tekanan jual yang lebih luas di pasar.
Untuk saat ini, arah Hang Seng masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS–Iran, kondisi Selat Hormuz, pergerakan harga minyak, serta minat investor terhadap saham teknologi China. Jika risiko energi dan geopolitik berlanjut, pasar Hong Kong berpotensi tetap defensif dalam jangka pendek.(asd)
Sumber : Newsmaker.id