Asia Merah Tipis, Yen Tetap Kuat: Tarif Korea Bikin Pasar Kicep
Bursa Asia bergerak melemah tipis setelah kekhawatiran tarif muncul lagi. Korea Selatan jadi pusat perhatian: Kospi turun sekitar 0,9%, sementara won melemah setelah beberapa hari menguat. Di Jepang, saham turun lagi karena yen yang lebih kuat menekan sentimen eksportir.
Pemicu utamanya datang dari Washington. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor Korea Selatan menjadi 25% untuk sejumlah barang, dengan alasan kesepakatan dagang tahun lalu belum “dikunci” lewat proses legislasi di Korea. Di waktu yang sama, isu tarif lain juga belum hilang, termasuk ancaman tarif 100% ke Kanada bila Ottawa mengejar kesepakatan dagang dengan China—membuat pasar tambah ragu ambil risiko.
Di pasar mata uang, yen bertahan kuat di sekitar area 154 per dolar setelah menguat dua sesi terakhir. Kenaikan yen dipicu spekulasi koordinasi AS–Jepang, apalagi setelah laporan rate check oleh New York Fed dan pernyataan pejabat Jepang bahwa mereka berkoordinasi erat dengan AS soal pergerakan valas.
Di tengah tarik-menarik itu, aset safe haven tetap ramai. Emas dan perak masih diperdagangkan dekat rekor karena investor mencari perlindungan saat isu tarif dan geopolitik bikin pasar gampang kaget. Sementara di AS, saham menguat pada Senin dan investor menatap pekan laporan keuangan perusahaan raksasa teknologi—uji besar apakah reli bertema AI masih kuat atau mulai “capek.”
Faktor makro juga ikut menambah bumbu: badai musim dingin di AS menekan sektor energi, dan harga gas alam AS melonjak hampir 30% karena cuaca ekstrem diperkirakan memangkas pasokan (sekitar 12% produksi sempat terdampak). Di obligasi, pasar cenderung menunggu keputusan The Fed pada Rabu—yang luas diperkirakan menahan suku bunga—jadi wajar kalau pelaku pasar memilih langkah kecil dulu.(asd)
Sumber: Newsmaker.id