Emas Anjlok 2%, Yield dan Dolar Naik di Tengah Risiko Inflasi Iran
Harga emas (XAU/USD) terkoreksi lebih dari 2,3% pada Jumat (15/5), tertekan kekhawatiran bahwa konflik AS–Iran yang berlarut dapat memicu gelombang inflasi lanjutan dan memaksa bank sentral mempertahankan sikap ketat lebih lama. XAU/USD diperdagangkan di bawah $4.550 setelah sempat menyentuh area terendah harian sekitar US$4.511.
Tekanan utama datang dari lonjakan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar. Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik ke 4,591% (naik sekitar 10 bps) dan mendekati level tinggi 2025 di 4,627%, sementara DXY menguat 0,33% ke 99,19. Kombinasi yield lebih tinggi dan dolar lebih kuat biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil dan dihargakan dalam dolar.
Di sisi energi, komentar Presiden AS Donald Trump yang menyebut kesabarannya menipis terhadap Iran mendorong harga minyak naik, menambah kekhawatiran inflasi berbasis energi. Bersamaan dengan rilis inflasi AS pada Selasa dan Rabu yang dinilai “panas”, pasar semakin skeptis terhadap peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat—sebuah headwind bagi emas yang cenderung lebih kuat saat suku bunga rendah.
Ekspektasi kebijakan The Fed tetap condong ketat. Menurut Prime Terminal, pasar memperkirakan The Fed—dalam rapat pertama di bawah Ketua baru Kevin Warsh—akan menahan suku bunga pada Juni dan kemungkinan bertahan hingga akhir tahun. Sejumlah pejabat The Fed pekan ini juga menegaskan pengendalian inflasi tetap prioritas, bahkan sebagian tidak menutup kemungkinan pengetatan tambahan bila tekanan harga bertahan.
Dari sisi data aktivitas, produksi industri AS naik 0,7% (MoM) pada April, melampaui perkiraan 0,3% dan berbalik dari penurunan 0,3% pada Maret. Data ini memperkuat narasi bahwa ekonomi masih cukup resilien, sehingga fokus kebijakan tetap tertahan pada risiko inflasi, bukan dukungan pertumbuhan.
Fokus pekan depan beralih ke data perumahan dan pasar tenaga kerja AS, serta komentar lanjutan pejabat The Fed. Pasar juga akan memantau apakah kenaikan minyak berlanjut dan seberapa besar dampaknya terhadap ekspektasi inflasi—karena jalur ini akan menentukan arah yield, dolar, dan ruang pemulihan emas.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id