Emas Bertahan di Atas Low Tahunan, Tekanan Fed Masih Membayangi
Harga emas bergerak stabil setelah sempat menyentuh level terendah tahun berjalan pada sesi Asia, Kamis (11/06). XAU/USD sempat pulih ke area US$4.118/oz, tetapi kenaikan tersebut mulai memudar karena pasar masih menimbang kombinasi pelemahan dolar AS, eskalasi AS–Iran, dan ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap ketat.
Dukungan jangka pendek datang dari data inflasi inti AS yang sedikit lebih lunak. Core CPI Mei turun ke 0,2% MoM dari 0,4% pada bulan sebelumnya, sementara secara tahunan berada di 2,9%, sesuai ekspektasi. Angka ini membuat dolar AS sempat melemah dan membuka ruang short-covering pada emas.
Namun tekanan fundamental belum hilang. Inflasi utama AS justru naik dari 3,8% YoY pada April menjadi 4,2% YoY pada Mei, level tertinggi dalam tiga tahun. Kenaikan ini terutama dipicu lonjakan biaya energi sebesar 23,5%, yang membuat pasar tetap khawatir terhadap tekanan inflasi lanjutan.
Ketegangan AS–Iran juga menjadi faktor penting. Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah AS melancarkan gelombang serangan baru atas perintah Presiden Donald Trump. Jalur ini penting bagi pengiriman energi global, sehingga gangguan lebih lama dapat mendorong harga minyak naik dan memperkuat risiko inflasi.
Bagi emas, kondisi ini menciptakan tekanan ganda. Di satu sisi, konflik geopolitik bisa memberi dukungan safe haven. Namun di sisi lain, kenaikan minyak dan inflasi membuat pasar memperhitungkan peluang The Fed tetap hawkish. Trader kini mematok sekitar 70% peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, yang mendukung yield Treasury dan membatasi ruang pemulihan emas.
Fokus berikutnya ada pada data Producer Price Index (PPI) AS dan perkembangan konflik Timur Tengah. Jika PPI kembali menunjukkan tekanan harga yang kuat, ekspektasi suku bunga tinggi dapat semakin menguat. Selama yield dan dolar tetap didukung oleh prospek Fed yang ketat, bias emas masih cenderung defensif meski harga bertahan di atas level terendah tahunan.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id