Emas Pulih Tipis, Minyak Turun Redakan Tekanan Inflasi
Harga emas spot menguat tipis pada Kamis setelah harga minyak berbalik turun, meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi akibat energi.
Pada pukul 05.29 waktu timur AS, emas spot naik 0,2% ke US$4.079,70/oz, setelah sempat menyentuh level terendah lebih dari enam bulan. Namun, kontrak berjangka emas masih melemah 0,8% ke US$4.100,65/oz.
Pemulihan terbatas ini terjadi setelah laporan menyebut Amerika Serikat dan Iran masih melanjutkan pembicaraan damai, meski kedua pihak kembali saling menyerang untuk hari kedua. Reuters juga melaporkan Washington dan Teheran masih membahas kesepakatan awal, termasuk mekanisme pencairan dana Iran yang dibekukan. Sinyal diplomasi ini membuat tekanan pada minyak sedikit mereda.
Meski begitu, ketidakpastian belum hilang. Presiden Donald Trump tetap memperingatkan tindakan lanjutan jika Iran tidak segera menerima kesepakatan. AS sebelumnya menyerang beberapa target militer Iran dan menyebutnya sebagai aksi “self-defense” setelah jatuhnya helikopter Amerika di dekat Selat Hormuz. Iran kemudian dilaporkan membalas dengan serangan terhadap basis AS dan sekutunya di kawasan Teluk.
Bagi emas, penurunan minyak menjadi faktor pendukung karena dapat mengurangi kekhawatiran inflasi energi. Jika harga minyak mereda, tekanan terhadap bank sentral untuk menaikkan suku bunga juga bisa berkurang. Namun dukungan ini masih terbatas karena harga minyak tetap jauh di atas level sebelum perang dan risiko gangguan Selat Hormuz belum sepenuhnya selesai.
Data inflasi AS juga masih menjadi beban. CPI terbaru menunjukkan laju kenaikan harga konsumen paling panas dalam beberapa tahun, terutama karena lonjakan biaya bensin. Pasar kini menunggu data Producer Price Index (PPI) AS untuk melihat apakah tekanan harga dari sisi produsen ikut meningkat dan bagaimana dampaknya terhadap ekspektasi kebijakan The Fed.
Secara keseluruhan, emas masih berada dalam fase rapuh. Pelemahan minyak memberi ruang pemulihan jangka pendek, tetapi dolar AS yang menguat ke sekitar 100,09, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir 2026, serta potensi kenaikan suku bunga ECB tetap membatasi ruang kenaikan logam mulia. Fokus pasar berikutnya adalah PPI AS, arah minyak, perkembangan negosiasi AS–Iran, dan pergerakan dolar.(yds)
Sumber: newsmaker.id