Saham AS Turun, Minyak Naik setelah Komentar Trump Redam Harapan Resolusi Perang AS-Iran
Saham AS melemah pada Kamis (2/3) dalam perdagangan yang volatil, sementara harga minyak melonjak setelah Presiden Donald Trump menyatakan perang di Iran akan berlanjut selama beberapa pekan. Investor menilai pernyataan tersebut mengurangi harapan bahwa konflik akan segera mereda, sehingga mendorong pergeseran sentimen lintas aset sepanjang sesi.
Dow Jones Industrial Average terakhir turun sekitar 100 poin atau 0,2%. S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,1% dan 0,2%. Pada titik terendah sesi, Dow sempat jatuh lebih dari 600 poin atau 1,4%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 1,5% dan 2,2%, mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap headline geopolitik dan energi.
Tiga indeks utama sempat berbalik menguat setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa negara tersebut bekerja sama dengan Oman dalam penyusunan protokol untuk “memantau” kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Berita ini memicu spekulasi bahwa jalur pelayaran di chokepoint tersebut dapat bergerak menuju skema pengawasan yang lebih terstruktur, meski belum menjawab isu utama terkait pembukaan penuh arus energi.
Todd Schoenberger, CIO CrossCheck Management, mengatakan kepentingan AS agar Selat Hormuz dibuka kembali tidak hanya terkait minyak, tetapi juga helium. Ia menyebut helium “lebih berharga daripada minyak asing” mengingat perannya dalam proses manufaktur semikonduktor dan menilai “tidak ada substitusinya.”
“Perkirakan volatilitas meningkat menjelang akhir pekan panjang,” kata Schoenberger.
Pergerakan indeks berlanjut fluktuatif antara menguat dan melemah sepanjang sesi seiring pasar menimbang dampak pernyataan Trump versus sinyal dari Iran-Oman terkait Hormuz. Indeks volatilitas CBOE (VIX), yang kerap disebut sebagai pengukur ketakutan Wall Street, naik menembus level 25.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id