
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (9/9), ketika investor menahan posisi menjelang sejumlah data inflasi penting AS. Dollar Index (DXY), yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, bergerak di kisaran 98,7–98,8 setelah sebelumnya turun hampir 0,4% pada sesi Selasa. Posisi tersebut membuat indeks dolar tetap berada di bawah level psikologis 99.
Tekanan terbesar terhadap dolar datang dari yen Jepang. USD/JPY bergerak sekitar 153,3–153,7 setelah yen sebelumnya menyentuh 152,89 per dolar, level terkuat dalam sekitar tujuh bulan. Mata uang Jepang telah menguat sekitar 4% sepanjang bulan ini seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan dan pembongkaran posisi carry trade berbasis yen.
Prospek yen semakin kuat karena pasar memperkirakan BOJ akan kembali mengetatkan kebijakan moneternya. Kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang juga membuat aset domestik semakin menarik bagi investor Jepang dan dapat mengurangi kebutuhan untuk menempatkan dana pada aset luar negeri, termasuk obligasi Treasury AS. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap USD/JPY.
Mata uang Eropa turut memperoleh dukungan terhadap dolar. Euro bergerak di sekitar US$1,163–US$1,164 dan sempat mendekati level tertinggi dua pekan menjelang keputusan European Central Bank pada Kamis. Pound sterling relatif stabil di sekitar US$1,354. Ekspektasi kenaikan suku bunga ECB turut menjaga permintaan terhadap euro.
Namun, ruang pelemahan dolar masih dibatasi oleh lonjakan harga minyak. Brent telah menembus US$100 per barel akibat eskalasi konflik Timur Tengah, meningkatkan risiko inflasi energi dan mendorong yield obligasi lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat memperkuat alasan Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan ketat atau menaikkan suku bunga, sehingga memberikan dukungan fundamental bagi dolar.
Fokus pasar kini tertuju pada data Producer Price Index dan terutama Consumer Price Index AS. Setelah laporan tenaga kerja AS yang kuat meningkatkan kembali ekspektasi pengetatan The Fed, pasar membutuhkan konfirmasi dari inflasi sebelum membangun posisi dolar yang lebih besar. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mendorong yield dan membuka ruang rebound bagi greenback, sedangkan inflasi yang lebih lunak berpotensi membawa DXY semakin menjauh dari level 99.
Analisa Newsmaker: bias dolar saat ini masih cenderung sideways hingga bearish selama DXY bertahan di bawah 99 dan reli yen terus berlangsung. Namun, kombinasi minyak di atas US$100 dan risiko inflasi membuat pelemahan dolar belum sepenuhnya aman. CPI AS kemungkinan menjadi katalis utama yang menentukan apakah DXY mampu kembali merebut level 99 atau justru melanjutkan penurunan menuju area yang lebih rendah.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id