
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak Brent bergerak mendekati US$102 per barel pada perdagangan Kamis (10/09) setelah Iran menyatakan siap menghadapi perang yang lebih intens jika Amerika Serikat terus menyerang wilayahnya. Brent memperpanjang kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut setelah sehari sebelumnya ditutup di atas US$100 untuk pertama kalinya sejak Juli.
Brent kontrak November naik sekitar 0,3% menjadi US$101,50 per barel, sementara West Texas Intermediate kontrak Oktober menguat 0,74% ke US$96,76. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik AS–Iran akan berlangsung lebih lama dan mengganggu pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Pejabat Iran menegaskan Teheran tidak berniat mundur menghadapi blokade laut AS dan siap meningkatkan serangan apabila Washington terus melakukan operasi militer. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa konflik tidak akan segera berakhir, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan energi yang berkepanjangan.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian. Sebelum perang, sekitar seperlima aliran minyak dan LNG dunia melewati jalur tersebut. Saat ini, sebagian minyak masih keluar dari Teluk Persia, tetapi ancaman terhadap tanker membuat biaya dan risiko pengiriman tetap tinggi.
Fundamental minyak juga diperkuat oleh meningkatnya pembelian China serta rendahnya persediaan bahan bakar di AS. Harga bensin dan diesel Amerika Serikat telah melonjak, sementara stok diesel diperkirakan turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.
Bias minyak masih cenderung bullish selama konflik AS–Iran belum menunjukkan tanda deeskalasi. Brent yang mampu bertahan di atas US$100 menunjukkan premi geopolitik masih kuat. Jika serangan terhadap tanker atau gangguan Hormuz meningkat, area US$102 berpotensi ditembus dan membuka ruang kenaikan lebih lanjut. Sebaliknya, normalisasi arus energi atau tanda-tanda diplomasi dapat memicu koreksi harga.