
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat masih berada di bawah tekanan terhadap yen pada perdagangan Rabu (9/9), ketika investor bersiap menghadapi pertemuan Federal Reserve dan Bank of Japan pekan depan. USD/JPY turun sekitar 0,4% ke 153,40, tidak jauh dari level 152,89 yang disentuh sehari sebelumnya dan menjadi posisi terkuat yen dalam sekitar tujuh bulan.
Penguatan yen menjadi faktor utama yang menahan dolar dalam beberapa sesi terakhir. Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan BOJ melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya, sementara dukungan dari Departemen Keuangan AS terhadap stabilitas mata uang Jepang turut memperkuat kehati-hatian trader untuk kembali menjual yen secara agresif.
Menariknya, dolar belum memperoleh dukungan besar meskipun harga minyak telah menembus US$100 per barel akibat eskalasi konflik Timur Tengah. Secara umum, lonjakan minyak dapat meningkatkan risiko inflasi dan mendukung ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi, tetapi kali ini tekanan dari penguatan yen dan ketidakpastian kebijakan moneter masih lebih dominan.
Dolar sempat memangkas pelemahannya setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan operasi buyback obligasi jangka panjang menjadi maksimal US$6 miliar pada Kamis. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga likuiditas pasar Treasury, meskipun dampaknya terhadap dolar masih relatif terbatas.
Terhadap mata uang utama lainnya, dolar bergerak lebih stabil. USD/CHF berada di sekitar 0,81 setelah sebelumnya melemah, sementara Dollar Index bergerak datar di sekitar 98,80 dan tetap dekat level terendah hampir dua pekan.
Analisa Newsmaker: tekanan terhadap dolar saat ini lebih banyak berasal dari reli yen dibandingkan perubahan besar pada ekspektasi suku bunga AS. Selama USD/JPY tetap dekat area 153 dan DXY gagal kembali menembus level 99, bias dolar cenderung terbatas hingga bearish. Namun, pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada data inflasi AS serta keputusan The Fed dan BOJ pekan depan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id