
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar Amerika Serikat bergerak stabil di sekitar 98,8 pada perdagangan Rabu (9/9), menghentikan penurunan dalam beberapa sesi terakhir. Greenback mendapat dukungan setelah kenaikan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Harga minyak kembali mendekati level psikologis US$100 per barel setelah konflik Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat. Pasukan AS menghancurkan lima tanker minyak Iran setelah adanya upaya serangan rudal terhadap kapal perang AS, sementara ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan Teluk terus memperbesar risiko gangguan pasokan energi. Brent sebelumnya bergerak mendekati US$99 per barel.
Lonjakan harga energi berpotensi menjaga tekanan inflasi AS tetap tinggi. Kondisi tersebut membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat. Pasar masih melihat peluang sekitar 60% kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September setelah laporan tenaga kerja AS yang kuat.
Meski demikian, dolar masih menghadapi tekanan besar dari yen Jepang. Mata uang Jepang sempat menguat hingga sekitar 152,89 per dolar, level terkuat sejak Februari, didorong meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan serta pembongkaran posisi carry trade. Reuters mencatat pasar bahkan telah memperhitungkan peluang sangat tinggi terhadap kenaikan bunga BOJ pekan depan.
Penguatan yen juga mendapat dukungan dari kebijakan Jepang dan Amerika Serikat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memberikan sinyal kuat agar pelaku pasar tidak kembali membangun taruhan agresif terhadap pelemahan yen, sementara ekspektasi repatriasi modal Jepang turut membantu mata uang tersebut.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Angka PPI dan CPI yang lebih panas dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kenaikan bunga The Fed dan memberikan dukungan lebih besar terhadap dolar. Sebaliknya, inflasi yang lebih lunak berpotensi kembali menekan greenback.