
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak menguat pada perdagangan Rabu (9/9), dengan XAU/USD terakhir berada di sekitar US$4.404,03 per troy ounce. Kenaikan ini terjadi saat investor kembali mencari aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran inflasi energi.
Sentimen pendukung emas datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent sempat menembus area US$100 per barel. Kenaikan harga energi membuat pasar khawatir tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan memengaruhi arah kebijakan bank sentral global.
Namun, penguatan emas masih terbatas karena pasar tetap menunggu data inflasi Amerika Serikat pekan ini. Data Consumer Price Index atau CPI AS menjadi katalis penting untuk menilai apakah Federal Reserve masih memiliki alasan kuat untuk mempertahankan sikap hawkish atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
Dari sisi pasar obligasi, lonjakan harga minyak ikut mendorong yield Treasury AS bergerak tinggi, dengan yield tenor 10 tahun berada di sekitar 4,806%. Yield yang tinggi biasanya menjadi beban bagi emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski demikian, emas masih mendapat dukungan dari permintaan safe haven dan pembelian defensif investor. Ketegangan geopolitik, tekanan di pasar saham Eropa, serta kekhawatiran atas jalur energi global membuat emas tetap diminati sebagai aset lindung nilai, meskipun ruang kenaikannya masih dibatasi oleh ekspektasi suku bunga tinggi.
Analisis Newsmaker: Pergerakan XAU/USD saat ini berada dalam tarik-menarik antara sentimen safe haven dan tekanan yield Treasury. Selama harga bertahan di atas area US$4.400, emas masih memiliki peluang menjaga bias positif jangka pendek. Namun, jika CPI AS keluar lebih panas dari ekspektasi, dolar AS dan yield berpotensi kembali menguat sehingga emas rawan terkoreksi. Sebaliknya, jika inflasi melandai, XAU/USD berpeluang menguji kembali area US$4.450 hingga US$4.500. (asd)