
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS masih bergerak lemah pada perdagangan Selasa (8/9), ketika investor menunggu data inflasi AS yang akan menjadi penentu utama prospek suku bunga Federal Reserve. Dollar Index terakhir berada di sekitar 98,79 atau turun 0,13%. Indeks tersebut sempat bergerak hingga 98,72, memperlihatkan bahwa greenback masih kesulitan mendapatkan momentum meskipun laporan tenaga kerja AS pekan lalu jauh lebih kuat dari perkiraan.
Yen Jepang tetap menjadi salah satu sumber tekanan utama terhadap dolar. USD/JPY terakhir bergerak sekitar 154,13 atau turun 0,15% pada pembaruan harga terbaru, setelah sebelumnya sempat jatuh hingga 152,89. Level tersebut membawa yen ke posisi terkuat sejak Februari sebelum sebagian kenaikannya terkoreksi. Ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan, repatriasi modal, dan pembongkaran carry trade masih menjadi faktor utama yang menopang mata uang Jepang.
Pasar memperkirakan peluang sekitar 75% bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September, sementara peluang kenaikan tambahan sebelum akhir tahun berada di sekitar 60%. Data ekonomi Jepang turut mendukung ekspektasi tersebut setelah pertumbuhan GDP kuartal II direvisi menjadi 1,4% secara tahunan dari estimasi awal 1,1%.
Pergerakan mata uang utama lainnya cenderung beragam. EUR/USD berada di sekitar US$1,1611 atau turun 0,10%, menjelang keputusan suku bunga European Central Bank. GBP/USD relatif stabil di sekitar US$1,3540 atau naik tipis 0,01%. Sementara AUD/USD turun sekitar 0,06% ke US$0,7214.
Franc Swiss sedikit melemah dengan USD/CHF naik sekitar 0,02% ke 0,8094. Sebaliknya, dolar Kanada mendapat dukungan dengan USD/CAD turun sekitar 0,08% ke 1,3803, yang berarti loonie menguat terhadap dolar AS. Penguatan mata uang Kanada turut mendapat dukungan dari tingginya harga minyak, mengingat Kanada merupakan salah satu eksportir energi utama dunia.
Di AS, pasar masih memperkirakan peluang sekitar 60% kenaikan suku bunga The Fed setelah Non-Farm Payrolls Agustus meningkat 162.000. Namun, investor enggan membangun posisi beli dolar yang agresif sebelum melihat data inflasi. Kenaikan harga minyak akibat konflik AS–Iran juga memperbesar risiko inflasi dan membuat data PPI serta CPI pekan ini semakin penting bagi arah kebijakan moneter.
Analisa Newsmaker: dolar masih memiliki bias lemah selama Dollar Index gagal kembali bertahan di atas level 99. Namun, rebound USD/JPY dari 152,89 menuju 154 menunjukkan bahwa reli yen mulai menghadapi aksi ambil untung setelah kenaikan tajam. CPI AS kini menjadi katalis terbesar bagi pasar valuta asing. Inflasi yang panas berpotensi menghidupkan kembali permintaan dolar dan memperkuat ekspektasi kenaikan bunga The Fed, sedangkan angka yang lebih lunak dapat kembali menekan greenback dan membuka ruang penguatan lanjutan bagi yen serta mata uang utama lainnya.
Sumber : Newsmaker.id