
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak terbatas pada awal perdagangan Asia, Kamis (10/9), setelah mencatat penguatan pada sesi sebelumnya. XAU/USD dibuka di sekitar US$4.402 per troy ounce dan bergerak dalam rentang awal sekitar US$4.400–US$4.406, menunjukkan pasar masih kesulitan melanjutkan kenaikan secara agresif.
Emas sebenarnya masih mendapatkan dukungan dari dolar Amerika Serikat yang berada dekat level terendah dua pekan serta meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Lonjakan harga minyak yang telah membawa Brent menembus US$100 per barel turut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Namun, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi penghalang utama bagi emas. Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat bergerak menuju area 4,85%, level tertinggi sejak November 2023. Tingginya imbal hasil membuat aset berbunga relatif lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Pasar juga mencermati operasi buyback Treasury AS pada Kamis. Departemen Keuangan AS dijadwalkan membeli kembali obligasi berjangka 10 hingga 20 tahun senilai maksimal US$6 miliar, tiga kali lebih besar dibandingkan operasi sebelumnya. Meski demikian, pengumuman tersebut belum mampu menekan yield secara signifikan sehingga dampak positifnya terhadap emas masih terbatas.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data Producer Price Index (PPI) AS. PPI Agustus diperkirakan naik sekitar 0,4% secara bulanan, sementara Core PPI diproyeksikan meningkat 0,3%. Data yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan hawkish Federal Reserve dan kembali menekan emas, sementara data yang lebih lunak dapat membuka ruang penguatan XAU/USD.
Secara teknikal, area US$4.400 menjadi level psikologis yang penting untuk dipertahankan. Selama harga bertahan di atas area tersebut, peluang rebound menuju US$4.420–US$4.435 masih terbuka. Penembusan US$4.435 dapat memperkuat momentum menuju US$4.450–US$4.480, sementara pelemahan di bawah US$4.400 akan meningkatkan risiko koreksi menuju US$4.380 hingga US$4.350. Dengan demikian, pergerakan emas sesi Asia masih cenderung konsolidatif sambil menunggu katalis baru dari Treasury dan inflasi AS.(CP)