
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas melonjak lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (9/9), didukung pelemahan dolar AS ketika investor menunggu data inflasi penting Amerika Serikat. Spot gold naik sekitar 1,4% menjadi US$4.414,30 per troy ounce, sementara kontrak emas AS untuk Desember ditutup naik 0,5% ke US$4.458,80.
Pelemahan dolar menjadi pendorong utama kenaikan emas. Greenback bergerak mendekati level terendah dalam dua pekan, membuat emas yang berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor pemegang mata uang lainnya. Kondisi tersebut membantu bullion kembali menembus area US$4.400 setelah mengalami tekanan dalam beberapa sesi sebelumnya.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel menciptakan sentimen dua arah bagi emas. Eskalasi konflik Timur Tengah meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, tetapi lonjakan energi juga memperbesar kekhawatiran inflasi dan mendorong yield Treasury AS lebih tinggi.
Yield Treasury 10 tahun bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak November 2023 sebelum sedikit turun. Tekanan di pasar obligasi tetap tinggi meskipun Departemen Keuangan AS mengumumkan buyback hingga US$6 miliar untuk obligasi jangka panjang. Respons tersebut menunjukkan pasar masih lebih fokus pada risiko inflasi, utang pemerintah, dan prospek suku bunga tinggi.
Investor kini menunggu data Producer Price Index pada Kamis dan Consumer Price Index pada Jumat. Pasar masih memperhitungkan peluang sekitar 60% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Inflasi yang lebih panas dapat kembali mengangkat yield dan menekan emas, sedangkan angka yang lebih lunak berpotensi memperpanjang rebound.
Logam mulia lainnya turut menguat. Silver melonjak 3,3% menjadi US$67,91 per ounce, platinum naik 5,1% ke US$1.906,20, sementara palladium menguat 1,2% menjadi US$1.365,50.
Analisa Newsmaker: emas saat ini mendapat dukungan kuat dari pelemahan dolar dan meningkatnya kebutuhan safe haven, tetapi kenaikan yield masih membatasi ruang reli. Fakta bahwa buyback Treasury US$6 miliar belum mampu menekan yield menunjukkan tekanan fundamental di pasar obligasi masih kuat. Karena itu, PPI dan CPI AS menjadi katalis utama untuk menentukan apakah Gold mampu mempertahankan posisi di atas US$4.400 atau kembali menghadapi tekanan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id