
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas turun tajam pada perdagangan Kamis (10/9) setelah data inflasi produsen Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Spot gold turun 1,9% menjadi US$4.317,85 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS turun 1,2%.
Producer Price Index (PPI) AS naik 0,4% secara bulanan pada Agustus setelah kenaikan Juli direvisi menjadi 0,1%. Meski Core PPI bulanan lebih rendah dari perkiraan, pasar masih melihat tekanan inflasi tetap tinggi, terutama karena kenaikan harga energi yang berpotensi menyebar ke biaya produksi dan konsumen.
Ekspektasi kebijakan The Fed ikut berubah setelah rilis data. Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya meningkat menjadi sekitar 70%, dari sekitar 62% sebelum data dirilis. Meski demikian, mayoritas ekonom dalam survei Reuters masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga.
Tekanan terhadap emas semakin kuat karena dolar AS menguat dan yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali naik. Kombinasi dolar dan yield yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas karena bullion tidak memberikan imbal hasil.
Harga minyak turut menjadi faktor utama setelah Brent melonjak sekitar 4% hingga mencapai US$105 per barel. Eskalasi serangan terhadap pelayaran dalam konflik AS–Iran meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan, sekaligus memunculkan risiko bahwa inflasi energi akan bertahan lebih lama.
Logam mulia lainnya juga mengalami tekanan besar. Silver turun 4,6% menjadi US$64,19 per troy ounce, platinum melemah 5,5% ke US$1.791,13, sementara palladium jatuh 5,1% menjadi US$1.283,52.
Analisa Newsmaker: penurunan Gold kali ini mencerminkan perubahan fokus pasar dari safe haven menuju risiko inflasi dan suku bunga. Lonjakan minyak ke US$105 mendorong yield lebih tinggi dan memperbesar peluang The Fed tetap hawkish. Selama dolar dan yield bertahan kuat, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut. Namun, arah berikutnya akan sangat bergantung pada data CPI AS, yang dapat menentukan apakah peluang kenaikan bunga 70% semakin kuat atau kembali turun.
Sumber: Newsmaker.id