
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak volatil di sekitar US$4.400 per troy ounce pada perdagangan Kamis (10/9), ketika dukungan dari pelemahan dolar AS berhadapan dengan kenaikan yield Treasury dan kekhawatiran inflasi akibat harga minyak yang tinggi. Spot gold turun sekitar 0,2% ke US$4.392,61, sementara kontrak emas berjangka melemah 0,6% menjadi US$4.435,25.
Tekanan utama datang dari pasar obligasi AS. Yield Treasury 10 tahun kembali meningkat setelah rencana pemerintah membeli kembali hingga US$6 miliar obligasi jangka panjang dinilai lebih kecil dari ekspektasi sebagian investor yang sebelumnya memperkirakan buyback dapat mencapai US$10 miliar. Yield yang lebih tinggi cenderung menekan emas karena bullion tidak memberikan bunga.
Harga minyak juga menjadi faktor penting setelah Brent menembus US$100 per barel. Eskalasi konflik Timur Tengah dan risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Di sisi lain, pelemahan dolar membantu menahan penurunan emas. Dollar Index berada dekat level terendah dua minggu, membuat emas yang berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor pemegang mata uang lain. Kondisi ini menjaga bullion tetap bertahan dekat level psikologis US$4.400.
Permintaan investasi juga masih memberikan dukungan kuat. ETF berbasis emas global mencatat arus masuk sekitar US$18 miliar pada Agustus, terbesar kedua dalam sejarah bulanan. Kepemilikan emas ETF meningkat 121 ton menjadi rekor 4.189 ton, menunjukkan investor masih mempertahankan permintaan lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar.
Investor kini fokus pada data PPI AS dan CPI yang akan menjadi petunjuk penting menjelang pertemuan Federal Reserve. Pasar memperkirakan peluang sekitar 65% kenaikan suku bunga bulan ini. Inflasi yang panas dapat kembali mendorong yield dan menekan emas, sedangkan angka yang lebih lunak berpotensi membuka ruang penguatan.
Analisa Newsmaker: emas masih berada dalam fase konsolidasi di sekitar US$4.400. Pelemahan dolar dan tingginya permintaan ETF menjadi penopang, sementara yield Treasury dan minyak di atas US$100 membatasi kenaikan. Data inflasi AS menjadi katalis utama yang berpotensi menentukan apakah Gold mampu kembali bergerak menuju area US$4.500 atau kembali terkoreksi. (arl)
Sumber : Newsmaker.id