
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melonjak lebih dari 6% pada perdagangan Kamis (10/9), dengan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama bertahan di atas US$100 per barel. Eskalasi serangan terhadap kapal dan fasilitas energi meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan global yang sudah ketat dapat mengalami gangguan lebih besar.
Kontrak Brent ditutup naik US$6,42 atau 6,34% menjadi US$107,63 per barel. Sementara itu, WTI melonjak US$6,43 atau 6,69% ke US$102,48 per barel, menembus US$100 untuk pertama kalinya sejak Mei. Keduanya mencapai level tertinggi sejak 19 Mei dan mencatat kenaikan harian terbesar dalam hampir dua bulan.
Sentimen pasar semakin memburuk setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman. Perkembangan tersebut meningkatkan risiko terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah dan Bab el-Mandeb, sementara aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas akibat meningkatnya serangan tanker.
Risiko geopolitik kini tidak lagi terpusat hanya pada Iran dan Hormuz. Serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi dan ancaman terhadap jalur Laut Merah meningkatkan kemungkinan gangguan merambat ke rute ekspor regional, lokasi produksi minyak, serta infrastruktur energi lainnya.
Ketegangan juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam kemungkinan serangan terhadap Pickaxe Mountain di Iran dan memperkirakan perang dapat berlangsung melewati pemilu sela November. Kondisi tersebut membuat pasar semakin kecil berharap pada deeskalasi dalam waktu dekat.
Dari sisi pasokan, persediaan minyak mentah AS turun 391.000 barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan lalu, lebih kecil dibandingkan perkiraan penurunan 1,55 juta barel. Sementara itu, produksi minyak OPEC dilaporkan turun sekitar 640.000 barel per hari pada Agustus akibat gangguan ekspor Saudi dan menurunnya pengiriman minyak Iran.
Namun, sisi permintaan masih menjadi faktor pembatas. OPEC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia 2026 menjadi hanya 380.000 barel per hari, menandai revisi turun kelima berturut-turut.
Analisa Newsmaker: lonjakan Brent ke US$107 dan WTI di atas US$102 menunjukkan premi risiko geopolitik kembali mendominasi pasar minyak. Selama gangguan Hormuz berlanjut dan ancaman terhadap Bab el-Mandeb meningkat, bias harga tetap kuat. Namun, revisi turun permintaan global dari OPEC menjadi faktor yang dapat menahan kenaikan lebih lanjut apabila gangguan pasokan tidak semakin parah.
Sumber: Newsmaker.id