Bursa Asia Turun, CPI AS Memanas Angkat Yield dan Tekan Saham Growth
Bursa saham Asia melemah mengikuti Wall Street setelah inflasi AS kembali menguat, memperlihatkan dampak dari lonjakan harga minyak sejak perang Iran dimulai. MSCI Asia Pacific turun 0,4%, dengan saham Korea Selatan jatuh 2,4%.
Di AS, kontrak berjangka indeks ikut melemah setelah S&P 500 dan Nasdaq 100 turun pada Selasa. Tekanan paling terasa di sektor teknologi, ketika indeks saham chipmakers anjlok 3% setelah reli sebelumnya yang memecahkan rekor.
Pemicu utama datang dari inflasi inti AS yang naik lebih cepat dari perkiraan, mendorong yield Treasury naik dan membuat pasar menaikkan taruhan kebijakan The Fed yang lebih ketat. Di komoditas, Brent sedikit turun namun tetap bertahan di atas US$107/barel setelah tiga hari kenaikan beruntun, menjaga kekhawatiran inflasi tetap tinggi.
Data AS menunjukkan tekanan harga makin jelas: CPI April naik 3,8% (yoy), tertinggi sejak 2023, sementara inflasi inti naik 2,8%. Kenaikan biaya bensin dan bahan makanan disebut melampaui pertumbuhan upah, menekan daya beli dan memperkuat narasi bahwa suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama.
Kombinasi minyak mahal, yield naik, dan dolar menguat berpotensi menghambat reli ekuitas yang sebelumnya didorong oleh megacap tech dan saham AI/semikonduktor. Pada perdagangan terbaru, Topix Jepang naik 0,3%, sementara ASX 200 Australia turun 0,6%, dan Euro Stoxx 50 futures melemah 1,5%.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id