Emas Stabil, Pasar Pantau Hormuz dan Jelang CPI AS
Harga emas bergerak terbatas setelah mencatat kenaikan moderat dua hari, seiring investor menilai kebuntuan konflik di Timur Tengah dan fluktuasi bursa Asia menjelang rilis data inflasi AS. Emas spot diperdagangkan di sekitar US$4.726 per ons, sempat memangkas penguatan intraday.
Sentimen geopolitik tetap menjadi latar utama. Presiden AS Donald Trump pada Senin mengecam respons Iran atas proposal damai AS dan menyebut gencatan senjata yang rapuh di Selat Hormuz berada di “massive life support”, memperkecil harapan penyelesaian cepat dan menjaga ketidakpastian pada jalur energi strategis.
Dari pasar saham, volatilitas sempat muncul ketika saham Korea Selatan turun lebih dari 5% sebelum memangkas pelemahan. Penurunan dipicu komentar pembuat kebijakan lokal tentang gagasan “dividen” bagi warga dari pajak keuntungan AI, yang kemudian diklarifikasi. Pergerakan ekuitas seperti ini ikut memengaruhi minat aset lindung nilai, termasuk emas, meski dampaknya tidak selalu satu arah.
Secara fundamental, emas menghadapi tarik-menarik. Tahun ini pergerakannya volatil: sempat mencetak rekor pada akhir Januari lalu terkoreksi. Sejak konflik Timur Tengah pecah, harga minyak yang tinggi memicu kekhawatiran inflasi, sehingga muncul pandangan bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya untuk meredam dampak inflasi energi. Kondisi suku bunga tinggi menjadi hambatan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Christopher Wong dari Oversea-Chinese Banking Corp menilai pergerakan emas kini lebih menyerupai “proxy risiko makro” ketimbang safe haven murni, karena terjepit antara kanal minyak dan inflasi, pricing The Fed, dinamika dolar, serta sentimen risiko. Menjelang CPI AS, emas spot turun 0,2% ke US$4.726,09 pada 12:37 di Singapura, sementara Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2%. Perak naik 0,2% ke US$86,25 setelah lonjakan lebih dari 7% pada Senin; platinum dan palladium turun.
5 inti poin:
- Emas stabil di area US$4.726 jelang rilis CPI AS.
- Trump menyebut gencatan senjata Iran “massive life support”, menjaga risiko geopolitik.
- Bursa Asia bergejolak, termasuk saham Korea Selatan yang sempat turun tajam lalu pulih sebagian.
- Minyak tinggi menjaga risiko inflasi dan memperkuat narasi suku bunga bertahan tinggi, menjadi headwind emas.
- Dolar menguat tipis; emas turun 0,2% pada sesi siang Singapura, perak menguat tipis.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id