Emas Tertahan, Reli Saham dan Jelang CPI Redam Mengajukan Safe Haven
Harga emas bergerak terbatas meski ketegangan Timur Tengah belum menemukan jalan keluar, seiring pasar saham menguat dan investor kembali menambah posisi. Bullion mengeluarkan sekitar US$4.730 per ons, menunjukkan pasar belum menaikkan premi risiko secara agresif meskipun konflik di sekitar Selat Hormuz masih berpotensi mengganggu sentimen.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump ikut menjaga perhatian pelaku pasar. Trump menyebut respons Iran terhadap proposal damai AS pekan lalu sebagai “a piece of garage” (sepotong sampah) dan mengatakan gencatan senjata yang rapuh di Selat Hormuz berada di “massive life support”, memperkuat sinyal bahwa konflik belum mendekati penyelesaian cepat.
Namun, ekuitas pasar tetap naik karena pelaku pasar lebih menekan optimisme bertema AI, sehingga dorongan ke aset lindung nilai seperti emas menjadi terbatas. Meski begitu, minat beli emas tetap muncul karena kenaikan harga energi menambah risiko inflasi, dan fungsi emas sebagai aset defensif kembali diperhitungkan saat pemerintah meningkat.
Analis MKS PAMP, Nicky Shiels, menilai korelasi minyak dan emas melemah seiring respons pasar yang berubah dan mulai “lelah” terhadap konflik. Ia juga menilai reli saham membuat emas belum mampu memaksimalkan momentum, sehingga logam mulia tersebut cenderung bergerak seperti gabungan “aset berisiko longgar” sekaligus “safe haven longgar” dalam dinamika saat ini.
Pasar kini menunggu rilis inflasi AS (CPI) pada hari Selasa, dengan ekonom mengumumkan kenaikan tajam setelah mencantumkan harga terkait perang Iran merembet ke sektor manufaktur dan pertanian. Menjelang data itu, emas spot turun 0,1% ke US$4.728,29 per ons pada pukul 09.46 di Singapura, sementara indeks dolar Bloomberg naik 0,2%. Perak turun tipis menjadi US$85,94 setelah melonjak lebih dari 7% pada hari Senin; platinum dan paladium juga melemah.(asd)
Sumber: Newsmaker.id