Emas Turun, CPI Panas Angkat Yield dan Dolar
Harga emas (XAU/USD) turun lebih dari 1% pada Selasa (12/5) setelah data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan mendorong pasar memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026. XAU/USD diperdagangkan di US$4.713, setelah sempat menyentuh puncak harian US$4.773.
Kenaikan inflasi yang didorong energi memperkuat tekanan pada emas melalui kanal yield dan dolar. CPI AS April naik 3,8% YoY (dari 3,3%), melampaui estimasi 3,7%, sementara core CPI naik 2,8% YoY, juga di atas estimasi 2,7%. Sejalan dengan itu, DXY menguat 0,48% dan berada dekat level tertinggi lima hari di sekitar 98,37.
Penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil menjadi headwind bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas. Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 4,5 bps ke 4,457%, sementara pasar mulai memasukkan probabilitas hampir 30% untuk kenaikan suku bunga menjelang akhir 2026, menurut Prime Terminal.
Di sisi geopolitik, AS dan Iran disebut mencapai kebuntuan terkait akhir konflik. Presiden AS Donald Trump menilai respons Iran atas proposal perdamaian sebagai “totally unacceptable” dan meminta pertemuan Dewan Keamanan Nasional untuk mengevaluasi opsi, sementara Axios melaporkan adanya sejumlah skenario termasuk kemungkinan dimulainya kembali aktivitas militer. Sentimen tersebut ikut mendorong harga minyak, dengan WTI naik lebih dari 3,20% ke US$101,50, yang memperkuat bias inflasi dan menopang dolar.
Di sisi kebijakan, Senat AS mengonfirmasi Kevin Warsh—nominasi Trump—ke dewan The Fed, dengan pemungutan suara untuk konfirmasi sebagai Ketua The Fed dijadwalkan Rabu, dua hari sebelum hari terakhir Jerome Powell sebagai chairman. Fokus pasar berikutnya tertuju pada kelanjutan tekanan inflasi inti, arah yield dan DXY, dinamika minyak, serta perkembangan negosiasi AS–Iran yang berpotensi mengubah profil risiko.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id