Trump Ultimatum Iran, Teheran Minta Ganti Rugi dan Kedaulatan Hormuz
Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington “sangat mengendalikan Iran,” tetapi juga menyampaikan ultimatum bahwa AS akan “membuat kesepakatan, atau mereka akan dihancurkan,” menurut laporan New York Times pada Selasa.
Pernyataan itu muncul di tengah perang yang belum menunjukkan tanda mereda, sementara jalur energi strategis di kawasan tetap menjadi sumber kekhawatiran pasar. Dalam beberapa pekan terakhir, Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif karena perannya sebagai penghubung utama arus minyak dan bahan bakar global.
Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menegaskan posisi Teheran bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup tiga hal: ganti rugi untuk Iran, pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, dan pengakhiran sanksi AS.
Perbedaan tuntutan ini memperbesar risiko negosiasi berjalan alot, karena masing-masing pihak menempatkan syarat yang sulit dipertemukan dalam waktu cepat. Bagi pasar, kombinasi ultimatum dan syarat balasan cenderung memperpanjang premi risiko geopolitik, terutama jika situasi di sekitar Hormuz tetap ketat.
Dari sisi dampak pasar, ketegangan yang meningkat biasanya menjaga harga minyak tetap tinggi karena risiko gangguan pasokan, sekaligus mendorong minat lindung nilai pada emas saat sentimen berubah lebih defensif. Untuk dolar AS, arah bisa bercampur: dolar berpotensi menguat bila pasar masuk mode risk-off, tetapi bisa tertahan bila lonjakan energi kembali mengangkat ekspektasi inflasi dan memicu volatilitas kebijakan, sehingga perhatian pasar beralih ke dinamika yield dan inflasi.
5 inti poin:
- Trump menyebut AS “mengendalikan Iran” namun mengancam serangan baru jika tak ada kesepakatan.
- Iran menuntut kesepakatan mencakup ganti rugi, kedaulatan atas Hormuz, dan pengakhiran sanksi AS.
- Selisih posisi memperbesar peluang negosiasi berjalan alot dan memperpanjang ketidakpastian.
- Risiko geopolitik berpotensi menjaga premi risiko energi tetap tinggi.
- Implikasi pasar: minyak cenderung stay elevated, emas mendapat dukungan hedging, dolar bisa menguat saat risk-off namun tetap sensitif pada inflasi/yield.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id