Upaya Perdamaian AS-Iran Terhenti karena Isu Hormuz
prospek proposal damai AS-Iran lagi memburuk. Setelah sebelumnya sempat ada harapan deal lewat proposal 14 poin, Trump kini menyebut respons Iran “tidak dapat diterima” dan mengatakan gencatan senjata berada di kondisi “life support” alias nyaris kolaps.
Inti proposal AS kabarnya meminta Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, menghentikan pengayaan uranium setidaknya 12 tahun, menyerahkan stok uranium 60% sekitar 440 kg, serta membuka kembali Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, AS disebut akan mencabut sanksi secara bertahap, melepas aset Iran yang dibekukan, dan menarik blokade atas pelabuhan Iran.
Masalahnya, Iran mengajukan syarat balik yang berat: blokade laut AS dihentikan, sanksi dicabut, ekspor minyak Iran dipulihkan, kompensasi perang dibayar, dan kontrol Iran atas isu Hormuz tetap diakui. Ini yang bikin Washington menolak karena dianggap terlalu menguntungkan Tehran dan tidak cukup menyentuh isu nuklir serta keamanan regional.
Perkembangan terbaru lainnya, Trump bilang dia tidak merasa butuh bantuan China untuk mengakhiri perang dengan Iran, meski kunjungannya ke Beijing tetap dipantau karena China punya pengaruh besar terhadap Tehran. Di sisi lain, AS dan China dilaporkan sama-sama menolak ide pungutan/tol kapal di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu sumber ketegangan utama.
Dampaknya ke market cukup jelas: harga minyak naik tajam karena harapan damai cepat makin menipis. Reuters mencatat Brent naik ke area sekitar US$107 per barel, sementara WTI tembus sekitar US$102 karena pasar khawatir gangguan Hormuz dan suplai energi berlanjut.
Kesimpulannya: proposal damai belum mati total, tapi posisinya sekarang sangat rapuh. Titik buntu utamanya ada di tiga hal: nuklir Iran, blokade/akses Selat Hormuz, dan tuntutan pencabutan sanksi plus kompensasi perang. Selama dua pihak belum mau kompromi di tiga titik itu, risiko eskalasi tetap tinggi dan minyak masih rawan lanjut volatile.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id