Wall Street ke Nyaris 7-Bulan Low, Risiko Stagflasi Menguat
Indeks saham AS melemah ke level terendah hampir tujuh bulan pada Jumat (27/3), ketika perang di Timur Tengah dan gangguan perdagangan menambah kekhawatiran stagflasi. S&P 500, Dow, dan Nasdaq 100 masing-masing turun sekitar 0,7%, seiring investor menilai lonjakan energi dan ketidakpastian geopolitik masih membebani prospek pertumbuhan sekaligus menjaga tekanan harga.
Presiden Donald Trump memperpanjang jeda serangan terhadap infrastruktur energi Iran, namun ledakan di kawasan kembali mengganggu arus tanker di Selat Hormuz. Harga energi yang meningkat telah lebih dulu meredupkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, dan tekanan bertambah setelah China membuka penyelidikan dagang terhadap AS sebagai balasan atas tarif Washington.
Sektor teknologi menjadi pemberat utama karena pengurangan posisi risiko mengikis minat pada tema AI yang bersifat spekulatif. Tesla, Microsoft, dan Oracle turun mendekati 2%, sementara Alphabet melemah sekitar 3,5%.
Tekanan juga terlihat pada saham memori setelah riset baru dari Alphabet mempromosikan model AI yang membutuhkan komputasi lebih ringan, memicu kekhawatiran permintaan infrastruktur komputasi. Di sisi lain, Meta tercatat turun hampir 10% sejak Rabu, dipengaruhi isu PHK dan putusan pengadilan yang menyebut platform media sosialnya bersifat adiktif.
Secara keseluruhan, kombinasi risiko energi, ketidakpastian jalur Hormuz, dan gesekan perdagangan memperkuat narasi bahwa pasar menghadapi campuran yang tidak nyaman: pertumbuhan melambat dengan tekanan inflasi yang sulit cepat turun. Itu membuat valuasi aset berisiko semakin sensitif terhadap headline geopolitik dan kebijakan.(yds)
Sumber: newsmaker.id