Market Dibuka Asia Melemah, Konflik AS-Iran Jadi Tekanan
Market Asia bergerak melemah pada perdagangan pagi ini, Kamis (11 06). Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 0,9%, mencerminkan tekanan yang cukup luas di kawasan. Sentimen negatif datang setelah Wall Street ditutup merah, dengan S&P 500 turun 1,6%, Nasdaq melemah 2,0%, dan Dow Jones jatuh sekitar 953 poin atau 1,9%.
Tekanan juga terlihat pada sejumlah indeks utama Asia. Nikkei Jepang melemah sekitar 0,5%, Shanghai Composite turun 0,2%, ASX 200 Australia terkoreksi 0,2%, sementara Hang Seng Hong Kong sempat bergerak naik tipis sekitar 0,2%. Di Korea Selatan, tekanan lebih dalam terlihat pada KOSPI yang sempat turun hingga 3%, terutama karena aksi jual pada saham teknologi dan semikonduktor.
Penyebab utama pelemahan pasar Asia datang dari kombinasi aksi jual saham AI di Wall Street dan meningkatnya risiko geopolitik. Saham-saham teknologi besar seperti Nvidia turun 3,7%, Broadcom melemah 5,1%, sementara Super Micro Computer anjlok 28%. Koreksi ini membuat investor Asia ikut mengurangi risiko, terutama di sektor teknologi yang sebelumnya sudah naik tinggi.
Selain tekanan dari sektor teknologi, konflik AS-Iran juga menjadi perhatian besar pasar. Serangan terbaru Amerika Serikat ke Iran dan risiko gangguan di Selat Hormuz membuat harga minyak kembali naik. Brent menguat sekitar 2% ke kisaran US$94,93 per barel, sehingga pasar mulai khawatir tekanan energi bisa kembali mendorong inflasi global.
Untuk saat ini, arah market Asia masih akan sangat bergantung pada tiga hal: perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, dan ekspektasi kebijakan The Fed. Jika harga minyak terus naik dan inflasi AS tetap panas, pasar saham Asia berpotensi tetap tertekan. Namun jika tensi geopolitik mereda, peluang rebound masih bisa terbuka dalam jangka pendek. (asd)
Sumber: Newsmaker.id