5 Inti Fase Konflik AS-Iran, Tensi Semakin Panas!
Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan Teheran “harus membayar harga” karena dinilai terlalu lama menegosiasikan kesepakatan damai sementara. Serangan terbaru ini memperpanjang periode balasan militer yang semakin menekan gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran.
Inti pertama, eskalasi terjadi setelah Iran disebut menyerang aset-aset AS di beberapa negara Timur Tengah, termasuk target yang terkait dengan fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Komando Pusat AS belum melakukan penuh serangan Iran tersebut, tetapi Kuwait, Yordania, dan Bahrain melaporkan intersepsi atau rudal drone. Belum ada laporan korban jiwa.
Inti kedua, Washington menyebut serangan ke Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache AS di sekitar Selat Hormuz. AS mengatakan serangan sebelumnya menargetkan sistem pertahanan udara, radar, dan fasilitas kendali darat Iran. Iran belum menyetujui klaim penembakan helikopter, tetapi menyatakan berhak membela diri dan memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak menjadi basis serangan AS atau Israel.
Inti ketiga, konflik kini bukan hanya soal militer, tetapi juga menyentuh risiko infrastruktur sipil. Media Iran melaporkan fasilitas udara di wilayah selatan rusak akibat serangan, membuat ribuan warga sempat kehilangan akses udara. AS menyatakan masih meninjau laporan tersebut. Jika benar, isu ini dapat memperbesar tekanan hukum dan politik terhadap operasi militer Washington.
Inti keempat, jalur diplomasi semakin sempit. Trump selama berminggu-minggu mengklaim kesepakatan dengan Iran sudah dekat, termasuk untuk membuka kembali Selat Hormuz dan membatasi program nuklir Teheran. Namun pernyataan terbaru menunjukkan proses itu belum menghasilkan titik temu. Wakil Presiden JD Vance bahkan mengakui kesepakatan bisa tercapai pekan depan, tapi juga bisa tertunda berbulan-bulan.
Inti kelima, Selat Hormuz tetap menjadi pusat risiko pasar global. Iran memiliki kapasitas terbatas secara militer dibandingkan AS, tetapi kapal cukup memiliki alat untuk mengganggu arus, termasuk ranjau dan drone. Dampaknya, risiko minyak naik jika pengiriman energi terganggu, emas bisa bergerak volatil antara safe haven dan tekanan suku bunga, sementara dolar berpotensi tetap didukung arus risk-off selama konflik belum mereda.(asd)
Sumber : Newsmaker.id