Iran Kunci Hormuz, Risiko Geopolitik Kembali Membesar
Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni. Pernyataan tersebut disampaikan negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dan kembali memperkecil harapan pembukaan jalur energi strategis tersebut dalam waktu dekat.
Iran meminta Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran, menghapus sanksi minyak, mencairkan aset Teheran yang dibekukan, serta menghentikan ancaman dan operasi militer di berbagai front. Teheran menilai pemenuhan syarat tersebut menjadi dasar sebelum aktivitas pelayaran melalui Hormuz dapat kembali normal.
Memorandum kesepahaman yang disepakati pada pertengahan Juni sebelumnya bertujuan membuka jalan menuju kesepakatan permanen antara AS dan Iran. Namun, perjanjian tersebut dengan cepat terganggu akibat perselisihan mengenai siapa yang berhak mengendalikan Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan LNG dunia.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir, sementara Kementerian Luar Negeri Iran kemudian menyebut perjanjian itu ditangguhkan. Padahal, kedua pihak sebelumnya diberi waktu untuk merundingkan kesepakatan akhir yang juga mencakup persoalan program nuklir Iran.
Ketegangan semakin tinggi setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran akan beralih ke posisi militer yang lebih ofensif karena upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik secara permanen tidak menunjukkan kemajuan. Kondisi ini membuat risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah tetap tinggi.
Analisis Newsmaker: Sikap Iran menunjukkan pembukaan kembali Hormuz masih jauh dari kepastian. Jika AS menolak memenuhi tuntutan Teheran dan konflik kembali meningkat, oil berpotensi mempertahankan momentum bullish karena premi risiko pasokan, sementara gold dapat kembali mendapat dukungan safe haven. Sebaliknya, kesepakatan yang membuka kembali jalur pelayaran berpotensi menekan harga minyak dan mengurangi sebagian permintaan defensif terhadap emas. (arl)
Sumber : Newsmaker.id