Gold Bertahan Menguat, Ekspektasi Fed Hike Terus Menurun
Harga emas bertahan menguat pada perdagangan Selasa (18/08) setelah mencatat kenaikan selama dua sesi berturut-turut. Spot gold bergerak di sekitar US$4.425,80 per troy ons, setelah menguat sekitar 1,5% dalam dua sesi sebelumnya. Pelemahan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi penopang utama.
Dollar Index terus berada di bawah tekanan dan menyentuh level terendah sejak Mei setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan pelemahan. Pasar kini tidak lagi sepenuhnya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, berbeda dengan kondisi sepekan sebelumnya.
Di sisi lain, yield Treasury AS tenor 30 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kenaikan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap belanja pemerintah yang tinggi, membengkaknya penerbitan utang jangka panjang, serta risiko inflasi. Kondisi ini justru dapat mendukung emas karena bullion kembali dilihat sebagai lindung nilai terhadap risiko fiskal dan beban utang pemerintah.
Namun, risiko inflasi dari Timur Tengah masih menjadi penghambat. Presiden Donald Trump menolak memperpanjang kesepakatan sementara dengan Iran, sementara pertempuran kembali meningkat di Lebanon dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz belum mereda. Jika konflik mendorong harga minyak lebih tinggi, tekanan inflasi dapat kembali meningkatkan peluang kebijakan The Fed yang lebih ketat.
Permintaan investor dan pembelian bank sentral, terutama dari China, juga masih menjadi penopang emas. Reli terbaru telah membawa gold kembali ke sekitar moving average 100 hari setelah sebelumnya menembus indikator tersebut untuk pertama kalinya sejak April.
Analisis Newsmaker: Sentimen emas masih positif karena dua hambatan utama, yaitu dolar kuat dan ekspektasi Fed hike, mulai mereda. Namun, kenaikan yield jangka panjang dan risiko inflasi energi tetap membatasi ruang reli. Fokus pasar berikutnya tertuju pada risalah rapat The Fed hari Rabu untuk mencari petunjuk apakah tekanan kenaikan suku bunga benar-benar mulai mereda atau masih berpotensi kembali.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id