• Tue, Aug 18, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

18 August 2026 07:09  |

Minyak Menguat, Yield AS Melonjak dan Risiko Timur Tengah Kembali Membayangi

Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Selasa (18/08) setelah prospek perdamaian di Timur Tengah semakin meredup. WTI naik sekitar 0,6% ke US$85,04 per barel, sementara Brent sebelumnya menutup perdagangan di atas US$90. Sentimen kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menolak memperpanjang kesepakatan dengan Iran dan konflik di Lebanon kembali meningkat.

Kenaikan harga minyak ikut menghidupkan kekhawatiran inflasi meskipun data inflasi AS sebelumnya menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali. Risiko energi menjadi perhatian karena konflik AS-Iran yang berkepanjangan dapat mempertahankan biaya minyak pada level tinggi dan menyulitkan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Tekanan juga datang dari pasar obligasi AS. Yield Treasury tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, sementara yield 10 tahun mencapai sekitar 4,72%. Investor mulai semakin khawatir terhadap besarnya belanja pemerintah, peningkatan penerbitan utang jangka panjang, serta inflasi yang masih berada di atas target The Fed.

Wall Street ikut tertekan. S&P 500 turun sekitar 0,5% dan Nasdaq 100 melemah 0,2%, meskipun saham semikonduktor masih mendapat dukungan dari optimisme sektor kecerdasan buatan. Kontrak berjangka saham Asia juga mengarah lebih rendah, menunjukkan investor mulai lebih berhati-hati terhadap kombinasi kenaikan yield dan risiko geopolitik.

Di sisi lain, dolar AS melemah ke level terendah sejak Mei karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus menurun. Kondisi tersebut membantu emas bertahan di sekitar US$4.415 per troy ons setelah mencatat penguatan dalam dua pekan terakhir. Fokus berikutnya tertuju pada risalah rapat The Fed serta laporan keuangan Walmart, Home Depot, dan Target untuk melihat kondisi terbaru konsumsi AS.

Analisis Newsmaker: Pasar global kini menghadapi kombinasi yang cukup kompleks: minyak menguat karena risiko geopolitik, yield obligasi naik karena kekhawatiran fiskal dan inflasi, sementara dolar justru melemah akibat menurunnya ekspektasi Fed hike. Jika harga minyak terus naik dan yield bertahan tinggi, tekanan terhadap saham dapat meningkat. Sebaliknya, emas masih berpotensi mendapat dukungan dari pelemahan dolar dan meningkatnya permintaan safe haven.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Minyak Melonjak, Serangan Rudal Iran ke Israel Uji Gencatan ...

Harga minyak menguat tajam pada Senin setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel, meningkatkan kekhawat...

8 June 2026 07:33
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai