Minyak Menguat, Yield AS Melonjak dan Risiko Timur Tengah Kembali Membayangi
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Selasa (18/08) setelah prospek perdamaian di Timur Tengah semakin meredup. WTI naik sekitar 0,6% ke US$85,04 per barel, sementara Brent sebelumnya menutup perdagangan di atas US$90. Sentimen kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menolak memperpanjang kesepakatan dengan Iran dan konflik di Lebanon kembali meningkat.
Kenaikan harga minyak ikut menghidupkan kekhawatiran inflasi meskipun data inflasi AS sebelumnya menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali. Risiko energi menjadi perhatian karena konflik AS-Iran yang berkepanjangan dapat mempertahankan biaya minyak pada level tinggi dan menyulitkan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Tekanan juga datang dari pasar obligasi AS. Yield Treasury tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, sementara yield 10 tahun mencapai sekitar 4,72%. Investor mulai semakin khawatir terhadap besarnya belanja pemerintah, peningkatan penerbitan utang jangka panjang, serta inflasi yang masih berada di atas target The Fed.
Wall Street ikut tertekan. S&P 500 turun sekitar 0,5% dan Nasdaq 100 melemah 0,2%, meskipun saham semikonduktor masih mendapat dukungan dari optimisme sektor kecerdasan buatan. Kontrak berjangka saham Asia juga mengarah lebih rendah, menunjukkan investor mulai lebih berhati-hati terhadap kombinasi kenaikan yield dan risiko geopolitik.
Di sisi lain, dolar AS melemah ke level terendah sejak Mei karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus menurun. Kondisi tersebut membantu emas bertahan di sekitar US$4.415 per troy ons setelah mencatat penguatan dalam dua pekan terakhir. Fokus berikutnya tertuju pada risalah rapat The Fed serta laporan keuangan Walmart, Home Depot, dan Target untuk melihat kondisi terbaru konsumsi AS.
Analisis Newsmaker: Pasar global kini menghadapi kombinasi yang cukup kompleks: minyak menguat karena risiko geopolitik, yield obligasi naik karena kekhawatiran fiskal dan inflasi, sementara dolar justru melemah akibat menurunnya ekspektasi Fed hike. Jika harga minyak terus naik dan yield bertahan tinggi, tekanan terhadap saham dapat meningkat. Sebaliknya, emas masih berpotensi mendapat dukungan dari pelemahan dolar dan meningkatnya permintaan safe haven.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id