Emas Bertahan, Lonjakan Minyak Picu Kekhawatiran Suku Bunga
Harga emas bertahan di sekitar US$4.043 per troy ounce pada perdagangan Jumat (24/07) setelah turun sekitar 2% pada sesi sebelumnya. Pelemahan tersebut menghapus sebagian besar kenaikan emas dalam dua hari terakhir yang sebelumnya didorong aksi beli saat harga turun.
Tekanan terhadap emas muncul setelah konflik di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong harga energi lebih tinggi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi Amerika Serikat dapat kembali menguat, sehingga Federal Reserve berpotensi memperketat kebijakan moneternya.
Harga minyak Brent menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik selama enam hari berturut-turut, mencerminkan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi.
Ketidakpastian juga bertambah setelah Presiden Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran. Pemerintah AS turut mengumumkan pungutan impor sebesar 10% hingga 12,5% terhadap barang dari sebagian besar mitra dagang utama.
Pasar swap kini memperkirakan peluang sebesar 34% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Setidaknya satu kenaikan suku bunga juga telah diperhitungkan pasar untuk September, dengan kemungkinan kenaikan tambahan sebelum akhir tahun.
Emas spot tercatat relatif stabil di US$4.048,25 per troy ounce, sementara perak berada di US$57,62 setelah turun 3,6% pada sesi sebelumnya. Selama harga energi dan ekspektasi kenaikan suku bunga tetap tinggi, emas berpotensi masih tertekan, meski area US$4.000 dinilai menjadi level penopang penting.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id