Minyak Bergerak Turun Tipis di Tengah Gejolak Geopolitik dan Data Stok AS
Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini, dengan benchmark Brent berada di sekitar US$ 94,7 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di kisaran US$ 92,8 per barel, mencerminkan tekanan dari ketidakpastian geopolitik dan reaksi pasar terhadap harapan perdamaian di Timur Tengah. Data ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda terus menjadi faktor pendorong volatilitas harga minyak, karena Selat Hormuz tetap mengalami gangguan yang menghambat aliran pasokan energi dunia.
Secara fundamental, pasar minyak saat ini mencermati tiga hal utama. Pertama, konflik di wilayah Teluk dan ancaman gangguan lebih lanjut di jalur Selat Hormuz sangat berpengaruh pada persepsi risiko pasokan global. Kedua, data persediaan minyak mentah AS terbaru menunjukkan penurunan tajam, yang menandakan permintaan ekspor dan pengolahan yang kuat meskipun konflik berlanjut, sehingga memberi sedikit dukungan bagi harga minyak. Ketiga, harapan tentang potensi perundingan damai atau pembukaan kembali rute ekspor melalui Hormuz bisa menahan kenaikan tajam minyak apabila ekspektasi itu memuncak, yang acap memicu reaksi jual oleh spekulan.
Dari sisi teknikal, Brent dan WTI saat ini menunjukkan bias sideways hingga sedikit bearish dalam jangka pendek:
Support kunci Brent diperkirakan berada di sekitar US$ 92–93 per barel, dengan support berikutnya di US$ 90 jika tekanan jual meningkat.
Untuk WTI, support kuat diperkirakan di kisaran US$ 90–91 per barel.
Resistance terdekat untuk Brent berada di US$ 97–99 per barel, sedangkan WTI menghadapi resistance di sekitar US$ 94–96 per barel. Penembusan konsisten di atas zona resistance ini dapat membuka peluang kenaikan lanjutan.
Untuk penutupan pekan ini, proyeksi harga minyak cenderung bergerak dalam rentang terbatas dengan potensi Brent menutup di US$ 94–97 per barel dan WTI di US$ 92–95 per barel, tergantung pada rilis data pasar energi AS, pembaruan geopolitik di Timur Tengah, serta reaksi pasar terhadap berita perundingan damai atau eskalasi konfliknya. Investor disarankan tetap waspada terhadap berita geopolitik dan laporan stok mingguan yang dapat memicu perubahan sentimen pasar dengan cepat.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id