Emas Turun di Bawah US$4.000, Konflik AS-Iran Jadi Tekanan
Harga emas kembali turun ke bawah level US$4.000 per troy ounce pada perdagangan Senin (20/07). Pelemahan ini membawa emas bergerak mendekati level terendah sembilan bulan, seiring meningkatnya serangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Tekanan terhadap emas datang dari peluncuran harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi. Pasar menilai kenaikan harga energi dapat membuat bank sentral, termasuk The Fed, mempertahankan kebijakan ketat atau menaikkan kembali suku bunga.
Militer Amerika Serikat menyatakan telah melancarkan serangan udara baru terhadap Iran pada hari Minggu, setelah tiga anggota militernya tewas. Di sisi lain, Teheran menyatakan gencatan senjata dengan AS secara efektif telah runtuh.
Iran juga menyebut telah mencegat empat kapal yang melintasi Selat Hormuz sepanjang akhir pekan. Kondisi ini membuat pasar semakin khawatir terhadap gangguan jalur energi penting dunia dan mendorong harga minyak naik lebih tinggi.
Harga minyak kini telah melonjak 30% dari level terendah Juli. Pada saat yang sama, Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, ikut memperingatkan risiko inflasi yang masih bertahan. Pasar kini meramalkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September sekitar 53%, naik dari 47% sehari sebelumnya.
Dari sisi dampak pasar, emas masih tertekan karena harga minyak tinggi, inflasi kembali mengkhawatirkan, dan ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat. Jika dolar AS dan imbal hasil Treasury ikut menguat, XAU/USD berpotensi semakin sulit kembali stabil di atas US$4.000. Namun, geopolitik tetap bisa menahan pelemahan emas agar tidak terlalu dalam karena sebagian investor masih mencari aset aman. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id