Trump Bungkam, Perang Iran Makin Membara
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase berbahaya setelah kedua pihak saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan. Arah kebijakan Presiden Donald Trump terhadap perang ini masih belum jelas, meski korban dari pihak militer AS terus bertambah.
Ketegangan meningkat setelah serangan Iran menewaskan dua personel militer AS di Yordania dan melukai sejumlah lainnya. Komando Pusat AS juga melaporkan satu personel tambahan tewas saat proses peledakan terkendali terhadap drone Iran yang belum meledak di Irak utara.
Meski situasi makin panas, Trump belum menunjukkan sinyal eskalasi besar secara terbuka. Ia lebih banyak menjaga jarak dari sorotan publik, sementara pemerintahannya tetap mempertahankan pendekatan saat ini, yakni menyerang Iran sambil menjaga arus kapal tanker tetap berjalan melalui Selat Hormuz.
Sejumlah analis menilai konflik ini masuk dalam siklus balas-membalas yang semakin sulit dihentikan. Kepercayaan antara kedua pihak sudah rusak, sementara kesepakatan damai sementara yang sebelumnya dibanggakan Trump nyaris ditinggalkan sepenuhnya.
Pemerintah AS tetap membuka ruang diplomasi, tetapi pada saat yang sama terus menekan kemampuan Iran untuk mengganggu perdagangan global dan jalur energi. Pejabat AS menyebut pengiriman dari kawasan Teluk saat ini hanya sekitar dua pertiga dari level sebelum konflik, menunjukkan bahwa perang mulai menekan arus pasokan.
Dampaknya ke market, harga minyak berpotensi tetap tinggi karena risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz masih besar. Emas bisa mendapat dukungan safe haven, tetapi penguatannya dapat tertahan jika kenaikan minyak memicu inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi. Sementara itu, dolar AS berpeluang menguat karena investor mencari aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id