Minyak Melonjak, Asia Tertekan
Harga minyak dunia kembali melonjak pada awal pekan setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat. Brent naik hingga lebih dari US$91 per barel, level tertinggi sejak 11 Juni, setelah serangan antara Amerika Serikat dan Iran meluas di kawasan Teluk.
Kenaikan minyak terjadi karena pasar khawatir konflik AS-Iran dapat mengganggu pasokan energi global. Serangan terbaru dilaporkan tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga wilayah penting di Iran dan fasilitas energi di Kuwait.
Di saat yang sama, dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama. Permintaan terhadap dolar meningkat karena investor mencari aset yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik.
Tekanan juga terasa di pasar saham Asia. Sentimen investor sudah melemah akibat aksi jual saham teknologi global, terutama setelah saham semikonduktor masuk fase bear market. Kekhawatiran muncul karena pasar mulai mempertanyakan apakah belanja besar untuk kecerdasan buatan atau AI masih dapat terus menopang pertumbuhan.
Saham chip ikut tertekan setelah perusahaan AI asal China, Moonshot, merilis model baru yang memicu kekhawatiran terhadap dominasi teknologi Amerika Serikat. Kondisi ini membuat investor di Asia cenderung mengambil sikap lebih defensif.
Dampaknya ke market, kenaikan minyak berpotensi menambah tekanan inflasi dan membuat bank sentral lebih berhati-hati terhadap suku bunga. Emas justru melemah ke bawah US$4.000 per troy ounce karena ekspektasi suku bunga tinggi kembali menguat, sementara pasar saham Asia berisiko tetap tertekan oleh kombinasi dolar kuat, minyak mahal, dan pelemahan saham teknologi.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id