The Fed Terbelah, Dolar Ikut Tertahan
Dolar AS bergerak datar pada perdagangan Rabu (8/7) setelah sempat menguat di awal sesi. Indeks Dolar AS turun tipis 0,1% pada pukul 14.22 ET, setelah pasar mencerna risalah rapat Federal Reserve bulan Juni.
Risalah FOMC menunjukkan bahwa beberapa pejabat The Fed sempat melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga. Namun, pada akhirnya seluruh anggota sepakat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% dalam rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh.
Dalam risalah tersebut, pejabat The Fed menilai risiko kenaikan inflasi masih tinggi. Sementara itu, risiko pelemahan pasar tenaga kerja dinilai sedikit berkurang. Artinya, The Fed masih belum bisa terlalu dovish karena tekanan harga tetap menjadi perhatian utama.
Di sisi lain, pasar juga masih dibayangi ketegangan Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara dengan Iran sudah “berakhir” setelah Teheran dilaporkan menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Ketegangan ini membuat harga Brent sempat melonjak 6,6% karena pasar khawatir terhadap gangguan pasokan energi.
Kenaikan harga minyak ikut mendorong imbal hasil obligasi AS. Yield Treasury 2 tahun naik ke 4,24%, sementara yield 10 tahun menyentuh level tertinggi satu bulan di 4,60%. Kenaikan yield biasanya dapat menopang dolar, tetapi penguatan greenback tertahan setelah pasar melihat The Fed masih terbelah soal arah suku bunga berikutnya.
Di pasar mata uang lain, dolar Aussie sedikit menguat, sementara yen Jepang masih tertekan di sekitar 162,20 per dolar AS. Level tersebut masih dekat area yang sebelumnya memicu kekhawatiran intervensi dari otoritas Jepang. Secara keseluruhan, dolar masih ditopang oleh risiko geopolitik dan yield tinggi, tetapi belum mendapat dorongan kuat karena pasar menunggu data inflasi berikutnya. (arl)
Sumber: Newsmaker.id