Awas Kenaikan Emas Masih Rapuh!
Harga emas kembali mencoba pulih pada awal pekan setelah sempat turun ke area US$3.983–US$3.982 per troy ounce di Senin sesi Asia(20/7). Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor yang membantu emas bergerak naik, karena komoditas ini biasanya lebih menarik ketika greenback melemah.
Namun, pemulihan emas masih terlihat rapuh. Tekanan dari ekspektasi suku bunga tinggi The Fed tetap menjadi penghambat utama, mengingat emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran kembali menjadi perhatian pasar. Amerika Serikat dilaporkan melanjutkan serangan terhadap Iran, sementara Iran membalas dengan rudal balistik dan drone ke sejumlah sekutu AS di kawasan Timur Tengah.
Risiko perang yang lebih luas membuat pasar tetap memasukkan premi risiko geopolitik. Selain itu, blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran dan pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz ikut mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi sejak 12 Juni.
Kenaikan minyak menjadi masalah bagi emas karena dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi. Jika inflasi energi meningkat, The Fed berpotensi mempertahankan sikap ketat lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga.
Dampaknya ke market, emas masih bisa mendapat dukungan dari pelemahan dolar dan ketegangan geopolitik. Namun, penguatan lebih jauh tampak terbatas selama harga minyak tinggi, inflasi menjadi ancaman, dan pejabat The Fed masih memberi sinyal hawkish. Secara teknikal, emas perlu menembus area resistance channel secara berkelanjutan untuk membuka peluang kenaikan yang lebih kuat.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id