
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak Brent bergerak sedikit melemah pada perdagangan Kamis (10/9), namun masih bertahan kuat di atas level psikologis US$100 per barel. Brent diperdagangkan sekitar US$101,10 per barel, turun sekitar 0,1%, setelah pada perdagangan sebelumnya mencatat lonjakan tajam hingga ditutup di US$101,21 per barel.
Pelemahan tipis tersebut muncul setelah Brent menguat sekitar 3,4% pada sesi sebelumnya dan sempat menyentuh US$101,58 per barel. Pergerakan saat ini menunjukkan pasar mulai melakukan konsolidasi setelah rally tajam, meski tekanan turun masih terbatas karena risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah tetap tinggi.
Sentimen utama masih berasal dari meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan setelah AS menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran. Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa respons dapat kembali ditingkatkan apabila serangan terhadap Iran berlanjut.
Situasi tersebut membuat pasar tetap memberikan premi risiko terhadap harga minyak. Aliran minyak melalui Selat Hormuz, yang sebelum konflik menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global, masih berada jauh di bawah kondisi normal. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas dan kepentingan energi Arab Saudi juga menambah kekhawatiran terhadap jalur pasokan alternatif melalui kawasan Laut Merah.
Dari sisi pasokan global, Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat juga telah menaikkan proyeksi harga minyak untuk tahun ini dan tahun depan seiring penurunan persediaan global akibat berkurangnya pasokan dari Timur Tengah. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu Brent tetap bertahan di atas US$100 meskipun mengalami koreksi jangka pendek.
Untuk perdagangan selanjutnya, area US$100 menjadi level penting bagi Brent. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut dan ketegangan di Timur Tengah belum mereda, tekanan koreksi berpotensi terbatas. Sebaliknya, eskalasi baru terhadap kapal tanker atau jalur Selat Hormuz dapat kembali mendorong Brent menguji US$102 hingga level yang lebih tinggi.(CP)