
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Rabu (9/9) setelah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Brent naik 3,4% dan ditutup di US$101,21 per barel, pertama kalinya berada di atas US$101 sejak Juli, sementara West Texas Intermediate menguat 3,3% menjadi US$96,05 per barel.
Kenaikan terjadi setelah militer AS menghancurkan lima tanker minyak mentah Iran sebagai balasan atas upaya serangan terhadap kapal perang Amerika. Meski kapal AS berhasil menghindari serangan dan tidak ada personel yang terluka, insiden tersebut memperbesar risiko konflik meluas ke jalur pengiriman energi di Teluk Persia.
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena Iran terus meningkatkan tekanan terhadap lalu lintas komersial di kawasan tersebut. Jika serangan terhadap kapal tanker semakin intensif, ekspor minyak dari Teluk Persia berpotensi turun lebih jauh dan memperketat pasokan global.
Goldman Sachs menilai eskalasi terbaru meningkatkan risiko skenario bullish yang lebih ekstrem. Daan Struyven, Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs, mengatakan Brent dapat bergerak di atas US$120 per barel apabila serangan terhadap kapal membuat ekspor Teluk gagal pulih dalam beberapa bulan mendatang.
Meski demikian, skenario dasar Goldman masih memperkirakan ekspor kawasan akan pulih secara bertahap seiring produsen menggunakan jalur pelayaran alternatif dan meningkatkan kapasitas jaringan pipa. Adaptasi tersebut dapat membatasi lonjakan harga apabila gangguan terhadap Hormuz tidak semakin parah.
Analisa Newsmaker: penutupan Brent di atas US$101 menunjukkan premi geopolitik kembali meningkat tajam. Selama konflik AS–Iran terus mengancam tanker dan arus energi melalui Hormuz, bias fundamental minyak tetap bullish. Namun, untuk membawa Brent menuju skenario US$120, pasar membutuhkan gangguan pasokan fisik yang jauh lebih besar dan berlangsung lebih lama.(yds)
Sumber: Newsmaker.id