
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent dan West Texas Intermediate setelah memperkirakan gangguan pengiriman energi di Timur Tengah dapat berlangsung hingga tahun depan. Brent saat ini telah bergerak mendekati US$100 per barel, bahkan sempat mencapai sekitar US$99,46, sementara WTI menyentuh sekitar US$94,73 akibat meningkatnya risiko pasokan dari kawasan Teluk.
Tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menaikkan proyeksi Brent dan WTI masing-masing sebesar US$5 menjadi US$85 dan US$80 per barel untuk Desember 2026. Untuk 2027, proyeksi keduanya dinaikkan menjadi masing-masing US$80 dan US$75 per barel. Pasar juga semakin memperhitungkan konflik berkepanjangan, dengan probabilitas berbasis pasar opsi bahwa Brent akan berada di atas US$100 pada Maret 2027 meningkat menjadi sekitar 25%, dari hanya sekitar 6% sebulan sebelumnya.
Meski demikian, Goldman menilai revisi tersebut masih relatif moderat karena persediaan minyak komersial OECD belum mengalami penurunan besar sejak perang dimulai. Kekurangan pasokan yang terjadi lebih kecil dari perkiraan sebelumnya karena pasar mampu beradaptasi, sementara penarikan persediaan banyak terjadi pada cadangan strategis, minyak yang berada di laut, serta stok China.
Pasokan Timur Tengah juga diperkirakan terus beradaptasi terhadap gangguan. Goldman memperkirakan produksi dapat mulai pulih secara bertahap pada semester kedua 2027 dengan bertambahnya jalur pipa baru dan peningkatan aliran minyak melalui jalur alternatif. China juga masih memiliki persediaan besar sehingga kenaikan harga berpotensi menekan pembelian negara tersebut dan membatasi reli minyak lebih jauh.
Namun, risiko terhadap proyeksi Goldman masih condong kuat ke sisi atas, khususnya dalam jangka pendek. Dalam skenario ketika serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Laut Merah semakin luas serta produksi Teluk tetap sekitar 4 juta barel per hari di bawah level sebelum perang, Brent berpotensi melampaui US$120 per barel. Goldman sebelumnya juga memperingatkan bahwa meningkatnya serangan terhadap kapal menjadi salah satu risiko terbesar bagi pasar minyak.
Sebaliknya, jika produksi kawasan Teluk pulih lebih cepat dan mampu berada sekitar 1 juta barel per hari di atas level sebelum perang, Brent berpotensi turun menuju kisaran US$60-an pada 2027. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa arah minyak dalam beberapa kuartal mendatang akan sangat bergantung pada seberapa cepat arus energi melalui Hormuz dapat kembali normal. (arl)
Sumber: Newsmaker.id