
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak menguat pada perdagangan Selasa (8/9), setelah militan Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi. Serangan tersebut memaksa sebagian operasi dihentikan sementara dan kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Brent crude futures naik 1% ke US$98,13 per barel pada pukul 10.01 ET, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi intraday di US$99,46. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat 1,95% ke US$93,26 per barel.
Sepanjang September, harga minyak sudah naik lebih dari 8% karena Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer untuk pertama kalinya sejak Juli. Eskalasi ini membuat pasar semakin memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan militan Houthi menargetkan aset sipil dan ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Serangan tersebut melukai lebih dari 70 warga sipil.
Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan serangan itu menyebabkan kebakaran di beberapa fasilitas energi dan memicu penghentian sementara sebagian operasi. Layanan darurat masih berupaya memadamkan api dan menilai tingkat kerusakan di lokasi serangan.
Riyadh tidak merinci jenis fasilitas energi yang terkena serangan. Namun, media pemerintah Houthi menyebut kelompok tersebut menyerang fasilitas Saudi Aramco di wilayah selatan menggunakan drone dan rudal balistik.
Arab Saudi menegaskan memiliki hak sah untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna mempertahankan kedaulatan, melindungi aset nasional, serta menjaga keamanan warga dan penduduknya. Pernyataan ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi balasan baru di kawasan tersebut.
Serangan Houthi terjadi setelah militer AS menyerang tiga tanker minyak Iran pada Sabtu sebagai balasan atas serangan rudal balistik Iran terhadap dua kapal perang Angkatan Laut AS. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan terhadap tanker tersebut sebagai kejahatan perang dan bentuk perang ekonomi.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent dan WTI masing-masing sebesar US$5 untuk Desember 2026 menjadi US$85 dan US$80 per barel. Untuk 2027, Goldman memperkirakan Brent di US$80 dan WTI di US$75 per barel, dengan gangguan pelayaran Timur Tengah diperkirakan berlanjut hingga 2027.
Analisis Newsmaker: Lonjakan Brent ke atas US$98 menunjukkan pasar semakin khawatir bahwa konflik Timur Tengah tidak hanya mengganggu jalur pelayaran, tetapi juga mulai menyasar infrastruktur energi utama di kawasan produsen besar. Jika Brent menembus area US$100, tekanan inflasi energi bisa semakin kuat dan memperbesar peluang bank sentral mempertahankan sikap hawkish. Namun, pernyataan Trump bahwa harga minyak bisa turun tajam jika AS memenangkan perang dengan Iran menunjukkan pasar juga masih menyimpan risiko koreksi cepat jika muncul tanda deeskalasi. (asd)
Sumber: Newsmaker.id