
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melonjak pada perdagangan awal Rabu (9/9), memperpanjang kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meluas ke kawasan regional. Brent naik US$1,57 atau sekitar 1,6% menjadi US$99,49 per barel, sementara West Texas Intermediate menguat US$1,60 atau 1,72% menjadi US$94,63 per barel.
Kenaikan terjadi setelah Iran melancarkan serangan baru terhadap target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang dua kapal perusak AS serta fasilitas militer di Al Azraq, Jordan, menggunakan rudal balistik. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas operasi AS terhadap tanker minyak Iran. Laporan terbaru juga menunjukkan konflik telah semakin meluas setelah serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi dan serangan AS terhadap kapal tanker Iran.
Militer Jordan mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan sebagian besar rudal yang datang dari wilayah Iran, sementara sisanya jatuh di daerah tak berpenghuni tanpa menimbulkan korban. Meningkatnya serangan terhadap target militer dan energi memperbesar kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada perairan Iran dan Selat Hormuz.
Amerika Serikat juga memperkeras respons terhadap Iran. U.S. Central Command mengatakan pasukannya menghancurkan lima kapal pengangkut minyak mentah Iran pada 8 September setelah adanya upaya serangan rudal terhadap kapal perang Angkatan Laut AS selama dua hari sebelumnya.
Ketegangan tersebut memperbesar risiko terhadap pasokan energi Timur Tengah. Selat Hormuz tetap menjadi titik utama kekhawatiran karena lalu lintas kapal melalui jalur tersebut terus melambat, sementara Iran mengancam akan memperluas pembatasan maritim dan menargetkan infrastruktur energi jika serangan AS berlanjut.
Brent telah melonjak tajam sejak awal Agustus seiring memudarnya harapan tercapainya penyelesaian permanen konflik. Pasar juga semakin khawatir bahwa serangan terhadap tanker, fasilitas energi, dan jalur pengiriman dapat mengurangi suplai fisik minyak dari Teluk dalam waktu yang lebih lama.
Meski Brent kini semakin dekat dengan US$100, beberapa faktor masih menahan lonjakan lebih ekstrem. Arus minyak melalui Hormuz belum berhenti sepenuhnya, produsen Teluk masih menggunakan jalur alternatif, sementara tambahan produksi dari negara non-OPEC dan tingginya persediaan China memberikan bantalan terhadap pasar.