
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak sedikit melemah dan masih berada di sekitar level psikologis US$4.400 per troy ounce. Spot gold terakhir diperdagangkan sekitar US$4.397,10 atau turun 0,21%, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sekitar US$4.385. Pergerakan bullion masih tertahan karena investor menimbang tingginya risiko inflasi dan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Tekanan terhadap emas terutama datang dari kenaikan harga minyak. Brent sempat menyentuh US$99,46 per barel, level tertinggi sejak akhir Juli, setelah konflik Timur Tengah semakin meluas dan fasilitas energi Arab Saudi menjadi sasaran serangan. Harga energi yang tinggi berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap kuat dan mendorong imbal hasil obligasi AS lebih tinggi.
Pasar juga masih mencerna laporan tenaga kerja AS yang kuat. Data tersebut telah meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September menjadi sekitar 60%, dari sekitar 50% sebelum laporan pekerjaan dirilis. Kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak menghasilkan bunga.
Meski demikian, pelemahan dolar membantu membatasi penurunan emas. Yen Jepang sebelumnya menguat tajam hingga mencapai level terkuat sejak Februari, sementara Dollar Index berada di sekitar 98,8. Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain sehingga memberikan dukungan terhadap harga bullion.
Fokus utama investor kini tertuju pada data Producer Price Index AS pada Kamis dan Consumer Price Index pada Jumat. Angka inflasi yang lebih panas berpotensi memperkuat peluang kenaikan bunga The Fed serta mendorong yield lebih tinggi, sementara inflasi yang lebih lunak dapat mengurangi ekspektasi pengetatan dan membuka ruang rebound bagi emas.
Analisa Newsmaker: emas masih cenderung bergerak sideways hingga bearish ringan selama gagal bertahan kuat di atas US$4.400. Risiko inflasi dari harga minyak dan ekspektasi kenaikan bunga The Fed menjadi penghambat utama, sedangkan pelemahan dolar dan ketegangan geopolitik menahan koreksi lebih dalam. PPI dan CPI AS berpotensi menjadi katalis yang menentukan apakah emas kembali menguat atau justru melanjutkan tekanan ke bawah.(yds)
Sumber: Newsmaker.id