
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Inflasi Inggris meningkat menjadi 3,1% secara tahunan pada Agustus, level tertinggi dalam lima bulan dan sesuai dengan perkiraan pasar. Kenaikan terutama dipicu lonjakan harga energi akibat kembali memanasnya konflik di kawasan Teluk.
Harga bensin dan diesel menjadi pendorong utama kenaikan inflasi, disusul tarif penerbangan yang lebih mahal, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Kenaikan harga minyak mentah juga meningkatkan biaya bahan baku dan harga barang dari tingkat produsen.
Meski headline inflation naik, core inflation yang tidak memasukkan komponen volatil seperti makanan dan energi tetap berada di 2,6% untuk bulan keempat berturut-turut. Inflasi sektor jasa yang menjadi perhatian utama Bank of England juga stabil di 3,4%.
Kondisi tersebut membuat pasar masih memperkirakan BoE akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Kamis. Peluang kenaikan 25 basis poin diperkirakan hanya sekitar 20%, meskipun pasar melihat kemungkinan dua kali kenaikan bunga sebelum akhir 2026 masih cukup besar.
Tekanan harga dari sisi produsen terlihat lebih kuat. Output prices naik 3,7% secara tahunan pada Agustus, sementara input prices melonjak 6,1%. Goldman Sachs memperkirakan inflasi Inggris berpotensi mencapai puncak sekitar 3,9% pada awal 2027 jika tekanan energi berlanjut.
Analisis Newsmaker: Kenaikan inflasi Inggris ke 3,1% memang meningkatkan risiko kebijakan moneter lebih ketat, tetapi stabilnya core inflation dan inflasi jasa masih memberi ruang bagi BoE untuk menahan suku bunga. Fokus pasar akan tertuju pada nada kebijakan BoE. Jika bank sentral mulai lebih khawatir terhadap dampak harga energi, ekspektasi rate hike lanjutan dapat meningkat dan memberi dukungan bagi pound. (arl)
Sumber: Newsmaker.id