
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% dari sebelumnya 1,00% pada pertemuan kebijakan moneter Jumat (18/9). Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan menjadi langkah lanjutan bank sentral Jepang dalam mengurangi kebijakan moneter longgar yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Kenaikan ini membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak April 1995. BoJ menilai tekanan inflasi masih menjadi perhatian, terutama akibat pelemahan yen, kenaikan harga energi, serta meningkatnya permintaan dari sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Bank sentral Jepang menyatakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan kenaikan suku bunga apabila kondisi ekonomi dan inflasi terus berkembang sesuai perkiraan.
Dalam pernyataannya, BoJ menegaskan akan terus menyesuaikan tingkat dukungan moneter dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi, harga, dan kondisi pasar keuangan. Bank sentral juga menyebut inflasi inti bergerak naik secara moderat karena kenaikan harga dari tingkat bisnis mulai berlanjut ke konsumen, sementara kenaikan upah juga memberikan tekanan terhadap harga jual perusahaan.
Meskipun menaikkan suku bunga, respon awal pasar menunjukkan yen belum langsung menguat. Pasangan USD/JPY hanya bergerak naik sekitar 0,49% ke level 156,73 setelah keputusan tersebut. Investor menilai kenaikan suku bunga sudah cukup memperhitungkan sebelumnya, sehingga perhatian pasar kini beralih pada sinyal BoJ mengenai langkah berikutnya dan kecepatan normalisasi kebijakan.
BoJ juga menyoroti risiko inflasi yang berasal dari perkembangan geopolitik, khususnya konflik Timur Tengah yang dapat kembali mendorong kenaikan harga energi. Selain itu, pelemahan yen sebelumnya menjadi salah satu faktor yang meningkatkan biaya impor Jepang dan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Analisis Newsmaker: Kenaikan suku bunga BoJ menunjukkan perubahan besar menuju kebijakan moneter Jepang yang mulai menjauh dari era suku bunga ultra-rendah. Dalam jangka menengah, langkah ini dapat memberikan dukungan terhadap yen jika pasar melihat BoJ masih memiliki ruang untuk menaikkan bunga lebih lanjut. Namun, pergerakan yen tetap akan bergantung pada perbandingan kebijakan dengan The Fed, terutama jika suku bunga AS tetap tinggi dan selisih imbal hasil kedua negara masih lebaran. (asd)