
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Perdana Menteri India Narendra Modi mendesak Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina dan menghentikan permusuhan saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT Shanghai Cooperation Organization pada Senin.
Modi menegaskan India tetap mendukung seluruh upaya perdamaian terkait konflik Ukraina. Menurutnya, perang yang terus berlangsung hanya akan memperburuk kondisi kemanusiaan dan membawa dunia semakin jauh dari penyelesaian konflik.
“Setiap hari perang terus berlangsung, umat manusia mundur satu langkah,” ujar Modi. Ia menekankan perlunya beralih dari perang berkepanjangan menuju penghentian permusuhan dan penyelesaian konflik secara damai.
Pernyataan tersebut muncul ketika Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan rencana melakukan serangan besar terhadap infrastruktur energi Ukraina. Rencana itu disampaikan beberapa hari setelah Rusia melancarkan serangan terhadap sebuah gudang amunisi yang menewaskan sedikitnya 38 orang.
Ancaman serangan baru terhadap fasilitas energi meningkatkan kekhawatiran bahwa Ukraina kembali menghadapi tekanan berat menjelang musim dingin. Infrastruktur energi menjadi salah satu target utama Rusia selama konflik dan kerap menimbulkan gangguan besar terhadap pasokan listrik serta pemanas di Ukraina.
Di sisi lain, hubungan energi Rusia dan India juga mulai menghadapi tekanan dari Amerika Serikat. DPR AS diperkirakan membahas rancangan undang-undang yang memungkinkan penerapan tarif hingga 100% terhadap negara yang termasuk lima pembeli terbesar minyak mentah atau gas Rusia, termasuk India dan China.
Rusia saat ini menjadi pemasok minyak mentah terbesar bagi India. Minyak Rusia menyumbang lebih dari 50% impor minyak India pada Juni dan Juli, serta hampir 43% hingga 24 Agustus. Nilai ekspor Rusia ke India antara April dan Juli juga meningkat menjadi lebih dari US$34 miliar, naik hampir 60% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam pertemuannya dengan Modi, Putin memuji perkembangan perdagangan bilateral kedua negara, meskipun mengakui bahwa volume perdagangan sempat mengalami sedikit penurunan pada tahun lalu.
Tekanan perdagangan terhadap India sebelumnya juga datang dari Presiden AS Donald Trump. Pada Agustus 2025, Trump memberlakukan tarif tambahan 25% terhadap India sebagai respons atas perdagangan energi dengan Rusia, sehingga total tarif terhadap sejumlah ekspor India ke AS sempat mencapai 50%.
Tarif tersebut kemudian diturunkan menjadi sekitar 18% pada awal tahun ini. Namun, Washington tetap mendorong India untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak Rusia dan meningkatkan pembelian minyak dari Venezuela sebagai alternatif.
Tekanan terhadap India kini datang dari dua arah, yakni kebutuhan menjaga pasokan energi murah dari Rusia dan ancaman tarif yang lebih besar dari Amerika Serikat. Jika India mulai mengurangi pembelian minyak Rusia, arus perdagangan energi global berpotensi berubah signifikan dan dapat memengaruhi harga minyak serta ekspor Rusia. Sebaliknya, jika New Delhi tetap mempertahankan impor dalam jumlah besar, risiko ketegangan perdagangan dengan Washington dapat kembali meningkat.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id