
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Jumlah lowongan kerja di Amerika Serikat naik pada Juli 2026, tetapi masih berada di bawah ekspektasi pasar. Data JOLTS menunjukkan job openings meningkat 89.000 menjadi 7,271 juta, dari revisi turun 7,182 juta pada Juni.
Meski mencatat kenaikan, angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 7,30 juta. Kondisi ini memberi sinyal bahwa permintaan tenaga kerja AS masih bertahan, tetapi belum cukup kuat untuk menunjukkan akselerasi baru.
Kenaikan lowongan kerja terutama terjadi pada sektor manufaktur barang tahan lama sebanyak 76.000, layanan kesehatan dan bantuan sosial 54.000, perdagangan grosir 50.000, serta konstruksi 28.000. Sektor-sektor ini masih menunjukkan kebutuhan tenaga kerja yang cukup solid.
Sebaliknya, lowongan kerja turun pada sektor transportasi, pergudangan, dan utilitas sebesar 67.000. Sektor jasa profesional dan bisnis juga mencatat penurunan 65.000, menandakan sebagian sektor mulai lebih berhati-hati dalam membuka posisi baru.
Secara regional, lowongan kerja meningkat di Midwest sebanyak 84.000 dan wilayah Barat 135.000. Namun, penurunan terjadi di Northeast sebesar 28.000 dan wilayah Selatan 102.000. Sementara itu, jumlah perekrutan dan total pemutusan hubungan kerja relatif tidak banyak berubah di 5,1 juta.
Analisis Newsmaker: Data JOLTS yang berada di bawah ekspektasi menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan sebagian momentum, meskipun belum masuk fase pelemahan tajam. Bagi market, data ini bisa sedikit menekan dolar AS dan yield Treasury karena memberi ruang bagi The Fed untuk lebih berhati-hati. Namun, karena job openings masih naik dan quits serta layoffs relatif stabil, dampaknya kemungkinan terbatas. Fokus berikutnya akan tertuju pada data ADP dan NFP untuk memastikan apakah pasar tenaga kerja benar-benar mendingin. (asd)
Sumber: Newsmaker.id