
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Pemerintah Amerika Serikat meningkatkan skala pembelian kembali atau buyback obligasi Treasury menjadi maksimal US$6 miliar, tiga kali lebih besar dibandingkan operasi normal sekitar US$2 miliar. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan likuiditas pasar obligasi jangka panjang setelah lonjakan yield dalam beberapa pekan terakhir.
Operasi buyback akan dilakukan Kamis (10/9) dengan sasaran Treasury berjangka sekitar 10 hingga 20 tahun. Pemerintah AS juga mengindikasikan operasi berikutnya akan dilakukan dengan nilai sedikitnya US$4 miliar, menandakan intervensi likuiditas yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.
Namun, respons pasar justru berlawanan dengan tujuan tersebut. Yield Treasury 10 tahun melonjak hingga sekitar 4,85%, level tertinggi sejak November 2023. Pasar sebelumnya sempat memperkirakan Treasury dapat membeli kembali US$8 miliar hingga US$10 miliar, sehingga pengumuman US$6 miliar dinilai belum cukup agresif untuk menahan tekanan jual obligasi.
Tekanan pada obligasi AS berasal dari beberapa faktor sekaligus. Utang pemerintah telah menembus US$40 triliun, penerbitan Treasury terus meningkat, sementara lonjakan harga minyak di atas US$100 per barel kembali memperbesar kekhawatiran inflasi. Risiko kenaikan suku bunga Federal Reserve juga membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang.
Buyback Treasury berbeda dengan quantitative easing atau QE oleh Federal Reserve. Program ini terutama bertujuan membeli surat utang lama yang relatif kurang likuid dan memperbaiki fungsi perdagangan di pasar, bukan secara langsung mencetak uang atau melonggarkan kebijakan moneter. Karena itu, dampaknya terhadap yield dapat terbatas jika tekanan fundamental dari inflasi, utang, dan tingginya penerbitan obligasi masih dominan.
Perhatian pasar kini tertuju pada pelaksanaan buyback US$6 miliar serta data inflasi AS. Jika operasi tersebut mampu meningkatkan permintaan obligasi, yield berpotensi mengalami koreksi. Namun, inflasi yang tetap panas dan harga minyak tinggi dapat membuat tekanan jual bertahan dan kembali membawa yield 10 tahun mendekati level psikologis 5%.
Analisa Newsmaker: buyback US$6 miliar merupakan langkah signifikan karena tiga kali lebih besar dibandingkan ukuran normal, tetapi kenaikan yield setelah pengumuman menunjukkan pasar masih lebih fokus pada risiko fiskal dan inflasi AS. Bagi emas, penurunan yield setelah buyback akan menjadi sentimen positif karena mengurangi opportunity cost memegang bullion. Sebaliknya, jika yield tetap mendekati 5%, reli emas dapat kembali tertahan. Dolar juga berpotensi mendapat dukungan apabila tingginya yield terus menarik permintaan terhadap aset AS.(yds)